Wow~! Cerita kolab~! :D
.
*cough*
.
Ini menarik, tapi yah...memang cara si anak mengungkapkan pikiran dan perasaannya rasanya terlalu dewasa untuk anak SD.
.
Konflik moralnya bagus, serius, dan entah kenapa saia suka sikap dan perasaan si anak waktu pertama kali jilat darah...kesannya...innocent outside but devilish inside *evil grin*
.
Anyway...ini cerita bagus dan sad endingnya menyentuh banget.
Prahara keluarga di antara wabah zombie yang tengah merajalela.
.
Idenya asik.
.
Hanya saja senada dengan komen di bawah, anak kecilnya terlalu dewasa. Kurang terasa kebingungan seorang anak yang berada di dunia yang dipenuhi zombie juga menghadapi ibu yang hendak berselingkuh.
.
Fuh, bye the waw, Keep zombie!
hmmm, ini cerpen kolaborasi dua orang ya?
.
secara konsep cerita, ini cerpen zombie paling menarik yang kubaca sejauh ini. kudos untuk pemilihan sudut pandang protagonisnya (y).
.
namun sayang ... narasinya bikin ak lumayan terganggu. beberapa kali dalam cerita aku terpaksa berhenti sebentar untuk berpikir: apa ada anak kecil berumur 9 tahun (yang berarti kurang lebih 4 SD) yang jalan pikirannya (atau cara berbicaranya) seperti ini?
well, mungkin memang ada, cuma jarang banget, sehingga ak enggak begitu bisa connect dengan cara anak ini berpikir dan bercerita ..
.
saran: ganti cerita ini ke POV orang ketiga. mungkin dengan itu, penulis bisa menambahkan porsi deskripsi yang berisi tindak-tanduk protagonisnya, dan mengurangi isi pikiran si protagonis yang sejauh kudapat di cerpen ini, lumayan beresiko kena OOCA (Out Of Character's Age).
.
tapi selain daripada itu ... cerpen ini memiliki tokoh yang paling kusukai dari cerita-cerita zombie lain yang sudah kubaca sejauh ini.
keep on writing! (y)
Kata kunci saia tahu ini sisi lain dari cerpennya Shao An di FF11 kemarin adalah nama "Shao An", dan keluarga yang suami-istrinya ribut.
.
Setting oke. Gambaran dalam rumah itu lebih mudah terbayang.
Narasinya juga oke. Khasnya Pak Guru Heinz lah. Cuma yaaa... itu, cara bicara si anak itu kenapa kayaknya kaya anak yang udah ga main boneka lagi? Tau apa itu "kiamat", bisa tahu kata "hasrat menyeruak?" errr..... o__o;;;
.
Mengenai karakter. Daripada si Ben, aku lebih ga suka si Mama.
Anak dianiaya di depan matanya kok malah dibiarin aja. (ngomong kasar depan anak kecil juga masuk penganiayaan verbal kan) Makanya, aku merasa karakter si Mama ini jadi kurang nyata. Sekalipun dalam keadaan panik mau keluar cepat-cepat, kesannya dia ga peduli dengan anaknya itu. Dan ini kontroversial dengan tindakan dia ngajak si anak yang menandakan dia peduli.
.
Sip deh :)
Hm, benernya sih bajingan di sini tuh cuma si Ben. Mamanya sih udah terlalu stres pengen keluar, so dia menghalalkan segala cara. Toh benernya dia masih memperhatikan suaminya juga.
Kalau tentang si anak, ini emang dilema sulit buatku. Narasinya agak berat karena awalnya emang diset untuk anak 12 tahun, awal remaja. Tapi kupikir-pikir lagi anak 12 taun pastinya udah gak polos lagi, apalagi di era modern. Jadilah kuambil umur 9-10 yang kutimbang paling pas buat anak yang masih polos tapi udah agak bisa mikir.
Lagipula anakku yang baru berumur 5 tahun udah sering ngobrol tentang surga dan Tuhan karena diajarin di sekola. Udah sering ngobrolin bencana pula lagi. Jadi yah semoga 9 tahun udah lebih mudeng gitu. Haha, ngeles mode on.
But in some way, you're right. Memang ada peralihan konsep di sini. Kalo mo dipolosin, semua narasi harus diganti. Itu bakal melelahkan sementara waktu menipis. Sementara kalo mo dijadiin remaja, ending akhirnya gak masuk. Dan karena alasan subjektif, aku gak rela endingnya diganti. Jadilah kuambil jalan tengah. Haha.
wew, kau berhasil membuat aku membenci dua orang yang sama sekali aku ga kenal. memanfaatkan sebuah bencana sebagai kesempatan untuk melepaskan diri dari sebuah ikatan itu keangkuhan yang paling, for lack of a better term, hiji (hina dan keji. maksa ya?)!
yang aku justru ngerasa ga asik tu karakter anak sembilan tahunnya. aku merasa karakternya belum mantap secara konsep. lebih "masuk" kalau dia sudah remaja. ga ada ortu yang mau cerita ke anaknya tentang the great mortality. ortu akan cenderung mengalihkan perhatian si anak (yang umurnya masi segitu) dari keburukan yang terjadi daripada membandingkannya dengan kejadian lain, so she wouldn't know about that. dan satu-satunya hal innocent tentang si anak adalah kenyataan bahwa dia ngomong sama teddy-nya.
Wow~! Cerita kolab~! :D
.
*cough*
.
Ini menarik, tapi yah...memang cara si anak mengungkapkan pikiran dan perasaannya rasanya terlalu dewasa untuk anak SD.
.
Konflik moralnya bagus, serius, dan entah kenapa saia suka sikap dan perasaan si anak waktu pertama kali jilat darah...kesannya...innocent outside but devilish inside *evil grin*
.
Anyway...ini cerita bagus dan sad endingnya menyentuh banget.
Prahara keluarga di antara wabah zombie yang tengah merajalela.
.
Idenya asik.
.
Hanya saja senada dengan komen di bawah, anak kecilnya terlalu dewasa. Kurang terasa kebingungan seorang anak yang berada di dunia yang dipenuhi zombie juga menghadapi ibu yang hendak berselingkuh.
.
Fuh, bye the waw, Keep zombie!
hmmm, ini cerpen kolaborasi dua orang ya?
.
secara konsep cerita, ini cerpen zombie paling menarik yang kubaca sejauh ini. kudos untuk pemilihan sudut pandang protagonisnya (y).
.
namun sayang ... narasinya bikin ak lumayan terganggu. beberapa kali dalam cerita aku terpaksa berhenti sebentar untuk berpikir: apa ada anak kecil berumur 9 tahun (yang berarti kurang lebih 4 SD) yang jalan pikirannya (atau cara berbicaranya) seperti ini?
well, mungkin memang ada, cuma jarang banget, sehingga ak enggak begitu bisa connect dengan cara anak ini berpikir dan bercerita ..
.
saran: ganti cerita ini ke POV orang ketiga. mungkin dengan itu, penulis bisa menambahkan porsi deskripsi yang berisi tindak-tanduk protagonisnya, dan mengurangi isi pikiran si protagonis yang sejauh kudapat di cerpen ini, lumayan beresiko kena OOCA (Out Of Character's Age).
.
tapi selain daripada itu ... cerpen ini memiliki tokoh yang paling kusukai dari cerita-cerita zombie lain yang sudah kubaca sejauh ini.
keep on writing! (y)
Kata kunci saia tahu ini sisi lain dari cerpennya Shao An di FF11 kemarin adalah nama "Shao An", dan keluarga yang suami-istrinya ribut.
.
Setting oke. Gambaran dalam rumah itu lebih mudah terbayang.
Narasinya juga oke. Khasnya Pak Guru Heinz lah. Cuma yaaa... itu, cara bicara si anak itu kenapa kayaknya kaya anak yang udah ga main boneka lagi? Tau apa itu "kiamat", bisa tahu kata "hasrat menyeruak?" errr..... o__o;;;
.
Mengenai karakter. Daripada si Ben, aku lebih ga suka si Mama.
Anak dianiaya di depan matanya kok malah dibiarin aja. (ngomong kasar depan anak kecil juga masuk penganiayaan verbal kan) Makanya, aku merasa karakter si Mama ini jadi kurang nyata. Sekalipun dalam keadaan panik mau keluar cepat-cepat, kesannya dia ga peduli dengan anaknya itu. Dan ini kontroversial dengan tindakan dia ngajak si anak yang menandakan dia peduli.
.
Sip deh :)
Jadi jombi
Ini keren, kecuali pada akhirnya. Endingnya anaknya mati ya? :/
Thx for comment.
Hm, benernya sih bajingan di sini tuh cuma si Ben. Mamanya sih udah terlalu stres pengen keluar, so dia menghalalkan segala cara. Toh benernya dia masih memperhatikan suaminya juga.
Kalau tentang si anak, ini emang dilema sulit buatku. Narasinya agak berat karena awalnya emang diset untuk anak 12 tahun, awal remaja. Tapi kupikir-pikir lagi anak 12 taun pastinya udah gak polos lagi, apalagi di era modern. Jadilah kuambil umur 9-10 yang kutimbang paling pas buat anak yang masih polos tapi udah agak bisa mikir.
Lagipula anakku yang baru berumur 5 tahun udah sering ngobrol tentang surga dan Tuhan karena diajarin di sekola. Udah sering ngobrolin bencana pula lagi. Jadi yah semoga 9 tahun udah lebih mudeng gitu. Haha, ngeles mode on.
But in some way, you're right. Memang ada peralihan konsep di sini. Kalo mo dipolosin, semua narasi harus diganti. Itu bakal melelahkan sementara waktu menipis. Sementara kalo mo dijadiin remaja, ending akhirnya gak masuk. Dan karena alasan subjektif, aku gak rela endingnya diganti. Jadilah kuambil jalan tengah. Haha.
Again thx for comment.
wew, kau berhasil membuat aku membenci dua orang yang sama sekali aku ga kenal. memanfaatkan sebuah bencana sebagai kesempatan untuk melepaskan diri dari sebuah ikatan itu keangkuhan yang paling, for lack of a better term, hiji (hina dan keji. maksa ya?)!
yang aku justru ngerasa ga asik tu karakter anak sembilan tahunnya. aku merasa karakternya belum mantap secara konsep. lebih "masuk" kalau dia sudah remaja. ga ada ortu yang mau cerita ke anaknya tentang the great mortality. ortu akan cenderung mengalihkan perhatian si anak (yang umurnya masi segitu) dari keburukan yang terjadi daripada membandingkannya dengan kejadian lain, so she wouldn't know about that. dan satu-satunya hal innocent tentang si anak adalah kenyataan bahwa dia ngomong sama teddy-nya.
all in all it was a good story.
braaaaaiiiiiiin....
sukaaaa....... >.< Daebak!!