Aku ingin mengejar gadis kecil itu. Akan kubawa dia pulang begitu kudapatkan. Akan kubersihkan dan kupakaikan daster merah muda. Akan kuberi hadiah boneka lalu kupeluk erat-erat di tempat tidur sambil kubacakan dongeng anak-anak.
Dia duduk sendiri di sudut bis tua. Tidak memakai alas kaki. Pakaiannya hijau tosca yang sudah kusam dan penuh noda tanah. Kulitnya menghitam, mungkin karena terbakar matahari atau justru karena daki. Kuku-kuku jarinya panjang dan kotor, tidak terawat, seperti rambut ikalnya yang memerah.
ass. met kenal ya miss...
ceritamu keren banget! apalagi tentang gadis kecil ini. entah kenapa ketika membaca ceritamu ini aku jadi terhanyut terasa menjadi tokoh aku disini dan ingin mengadopsi gadis kecil itu menjadi anakku... keren deh! salut! kau pintar membawa perasaan pembaca kedalam ceritamu :)
saya udah baca di P I E C E S -mu.
terasa lebih lancar untuk saya yang 'sulit' membaca^^ heuheuheu...
tapi, saya rasa, ending yang 'menggebrak' itu belum saya temukan di sini.
membaca satu dari sekian ribu fenomena yang ada.
ckk...kadang butuh sarana tumpahan kata yang lain untuk menginspirasi sebuah jalinan cerita.
miris.manis.
--------------------
cheers!
Miss Worm, penulis yang sangat bebas menggunakan ruang dan waktu untuk menggiring kita larut dalam untaian ceritanya. Sangat dekat dengan dunia sastra Indonesia.
Keren banget! Aku suka banget sama prosa Sapardi yang tentang anak jalanan itu! Musikalisasinya juga sama penulis favoritku, Reda Gaudiamo! Masalah kehidupan jalanan memang sangat nyata, aku juga suka merenung saat melihat banci lampu merah di bawah fly over pasupati.
Penuturan Worm, bagus seperti biasa..
What can I say? Tidak bisa banyak komentar karena diriku belum tentu bisa buat yang semacam ini.
Tapi terbiasa baca cerita kamu yang lain, yang ini jadi tidak terlalu spesial (di luar ide sosial yang diceritakan).
Dari pengalaman yg kulihat jg mirip. Seorang pengamen cilik menolak pemberian pisang goreng dari ibu2. " Paling nggak duit gopek kek bu!" Kata anak itu.
Laen hari di Bintaro plaza, Serombongan anak2 kecil menawarkan jasa ojek payung. Sambil basah2an dengan pakaian ala kadarnya beberapa dari anak2 itu bersungut melihat salah satu temannya mendapat uang seribu lima ratus rupiah. Dari kejauhan, diparkiran mobil, dua orang ibu2 memantau rombongan anak2 itu.
keren ka.. q jdi pngen nangis, tringat adik q.. q mrsa mnjdi tokoh tu.. :(
ass. met kenal ya miss...
ceritamu keren banget! apalagi tentang gadis kecil ini. entah kenapa ketika membaca ceritamu ini aku jadi terhanyut terasa menjadi tokoh aku disini dan ingin mengadopsi gadis kecil itu menjadi anakku... keren deh! salut! kau pintar membawa perasaan pembaca kedalam ceritamu :)
salam kenal juga :)
selamat ya, wind, cerpenmu diresensi. aku suka cerpen gadis kecil ini
nb. sebenarnya lagi ngumpulin poin lagi nih, kehabisan buat posting resensi....whahahaha :p
salam kenal juga ^^
thanks for the note
wah loading ternyata miss,sekarang ak udah bisa baca ceritanya no comment dech miss, ceritanya OK...
kok ak gak bisa baca cerita yang ini yah..??
^^
hebat, cerita miss worm membuat saya nggak bisa berhenti baca.. salut banget..
mengalir lembut, nyaman, hangat..
;)
mhn ilmunya jg yak,,
Yang ini berbeda win ^^
Cerita-cerita si mbak yang satu ini emang selalu always. Hehe...
Terus melangkah...
ada sesuatu yang menyeruak tiba-tiba di hatiku, meruah di mataku,dan tumpah di pipiku.
sungguh, cerita yang luar biasa
ayo,jangan berhenti menulis kawan
Gak heran and ga salah kalo temen gw bilang kalo windry alias ms worm itu keren...mang keren,inspiratif tulisannya
Salam
gimana sih cara nulis dengan indah begini... bisa beri tips dan saran?
ceritamu bernyawa..
whatever they say...menurutku tulisan kamu keren bgt..^^ huehue..kapan aku bisa nulis kaya gini??
cerita yang berirama dari awal sampe ending...
cool..!!
minta saran and comment tuk karya gw mau...??
...speechless...
T.T baik hati banget....
Aih ceritanya lembuuuut deh
Aku suka! ah, dan aku juga suka dengan ending ini - -
Cukup menggebrak buatku, gx perlu ditambah apa2 lagi
bagus., tapi aku maih ngerasa itu gk real..... ^_^
cerita miss worm selalu menyentuh.
hanya saja di bagian akhir cat jadi seperti di rem mendadak.
(*practice makes perfect)
saya udah baca di P I E C E S -mu.
terasa lebih lancar untuk saya yang 'sulit' membaca^^ heuheuheu...
tapi, saya rasa, ending yang 'menggebrak' itu belum saya temukan di sini.
bagus banget!
ceritanya ngalir, bikin pembaca ikut terhanyut..
* s e m a n g a t *
membaca satu dari sekian ribu fenomena yang ada.
ckk...kadang butuh sarana tumpahan kata yang lain untuk menginspirasi sebuah jalinan cerita.
miris.manis.
--------------------
cheers!
jika punya YM add me yah...i need to talk.
aku jg sudah baca yang ini di blogmu :)
bagus. bahasa dan tema yang dikembangkan windry semakin hari semakin matang deh.
Miss Worm, penulis yang sangat bebas menggunakan ruang dan waktu untuk menggiring kita larut dalam untaian ceritanya. Sangat dekat dengan dunia sastra Indonesia.
Saya kagum lho sama dikau.
Jangan lupa kasih komen dicerita terbaruku.
Bingung lah harus kasih comment apa.
he was right, I feel like they were from Pluto.
hmmm
lama juga ga mampir. tambah jago aja. yang ini bagus. diedit sekali lagi, sempurna nih. kalimat terakhirnya menjawab semuanya.
...bisa ya puisi patah hati keluar cerpen begini hihi...lanjut ah
Diriku paling suka ttg segala sesuatu yg berbau sosial. Apalagi kalau yg cerita Miss Worm :)
Great, I love it :D
Keren banget! Aku suka banget sama prosa Sapardi yang tentang anak jalanan itu! Musikalisasinya juga sama penulis favoritku, Reda Gaudiamo! Masalah kehidupan jalanan memang sangat nyata, aku juga suka merenung saat melihat banci lampu merah di bawah fly over pasupati.
Penuturan Worm, bagus seperti biasa..
What can I say? Tidak bisa banyak komentar karena diriku belum tentu bisa buat yang semacam ini.
Tapi terbiasa baca cerita kamu yang lain, yang ini jadi tidak terlalu spesial (di luar ide sosial yang diceritakan).
Dari pengalaman yg kulihat jg mirip. Seorang pengamen cilik menolak pemberian pisang goreng dari ibu2. " Paling nggak duit gopek kek bu!" Kata anak itu.
Laen hari di Bintaro plaza, Serombongan anak2 kecil menawarkan jasa ojek payung. Sambil basah2an dengan pakaian ala kadarnya beberapa dari anak2 itu bersungut melihat salah satu temannya mendapat uang seribu lima ratus rupiah. Dari kejauhan, diparkiran mobil, dua orang ibu2 memantau rombongan anak2 itu.
Ironis memang..
Pokonya hidup Pak Sapardi!! hidup Windry!!
Hiks semestinya untuk negeri yang kaya ini, adalah mustahil untuk melihat kemiskinan.
Nice story.
Gadis Kecil
adalah musikalisasi puisi Sapardi yang membuat saya keluar gedung pertunjukan sambil menangis sesunggukkan. :)
oh that day, valentine day, menonton musikalisasi puisi cinta saat patah hati.