Baca lebih lanjut (ada 1805 kata) HARI itu, Imma berulang tahun yang ke-sembilan belas. Sebuah pesta sederhana diadakan di rumahnya. Beberapa teman kuliah terdekatnya nampak hadir di situ. Namun dari sekian tamu yang hadir, ada satu sosok yang membuatnya tergugah.
“Ruli?” begitu terperangahnya Imma saat dilihatnya sosok itu berjalan melangkah ke arahnya dengan sekotak kado ulang tahun.
“Happy Birthday,” Ruli tersenyum manis, semanis saat pertama mereka bertemu sepuluh tahun yang lalu, saat mereka kelas empat SD.
“Katanya kamu di Amrik. Hm, aku tahu pasti kamu kangen sama aku kan?”
“Jangan Geer! Aku pulang sebentar cuma mau ngejemput sepupuku yang tahun ini juga mau kuliah di sana.”
“Terus, kenapa kamu ke rumahku? Aku kan nggak ngundang kamu? Abisnya aku pikir kamu udah lupa sama aku. Nggak pernah kasih kabar apa-apa sejak perpisahan SMA dulu. Sombong!”
“Kamu pikir tarif SLI itu murah? Aku di sana tuh tinggal numpang di rumah sodara-sodaraan. Makanya aku mesti pinter-pinter ngirit. Lagian aku nggak pernah lupa sama kamu kok. Buktinya aku bisa sampe ke sini karena aku inget hari ini kamu ulang tahun.”
“Cuma itu kan yang kamu inget? Selebihnya nggak ada.”
“Ya ampun, Im. Nggaklah! Aku tuh selalu inget segala yang berhubungan sama kamu. Makanan kesukaan kamu, warna favorit kamu, cowok dan mantan-mantan kamu, kejadian-kejadian yang bikin kamu nangis atau ketawa. Hal-hal indah dan nggak indah yang pernah kita lewati dulu, semuanya nggak bakalan pernah aku lupain.”
Tiba-tiba saja Imma menangis dan memeluk erat tubuh Ruli. “Aku kangen banget sama kamu,” bisik Imma.
***
Malam sudah mulai larut. Pesta sudah usai beberapa jam yang lalu. Imma dan Ruli mengambil view di halaman belakang yang langsung menyuguhkan mereka dengan pemandangan indah bumi Lembang.
“Kamu inget nggak, di sana...” kenang Ruli sambil menunjuk sebuah persawahan yang kalau malam tak nampak hijau. “Kamu pernah jatoh sampe seluruh tubuh kamu dikotori lumpur. Hahaha...”
“Iya. kamu tuh raja ngibul! Katanya kamu ngeliat katak berwarna pink. Aku kan paling nggak bisa tahan sama sesuatu yang berbau pink, sekalipun benda itu sejijik katak. Dan tanah di situ emang lagi sensi sama aku.” Kata Ima sedikit ngambek. Kemudian tatapannya tertuju pada sebuah ayunan klasik yang terbuat dari ban mobil. “Nah, di sini, aku juga masih inget bener. Kamu nangis sesunggukan sampe nggak mau makan dan nggak mau pulang. Im, Nira nolak cinta gue. Gue mesti gimana? Gue cinta mati sama dia... gue nggak bisa hidup tanpa dia. Huuu...” Imma menirukan kata-kata dan ratapan Ruli beberapa tahun yang lalu, yang masih dikenangnya baik-baik.
Secepat mungkin Ruli menutup mulut Imma, mencegah seluruh kenangan memalukan lainnya terlontar dari mulutnya. Imma mengerang lalu melakukan perlawanan secukupnya. Mereka berdua pun bergumul seperti anak kecil yang sedang berkelahi di atas rumput. Sampai kemudian mereka tersadar, mereka sudah cukup canggung untuk melakukan hal itu lagi.
Imma yang mendaratkan tubuhnya di dada Ruli, merasakan jelas debaran keras jantung Ruli, begitu juga dengan Ruli. Akibatnya mereka sempat terpaku dengan tatapan dalam dan tiba-tiba itu. Tanpa mereka sadari, wajah mereka kian mendekat dan mendekat hingga tak menyisakan jarak secenti pun. Sejenak mereka merasakan hangatnya kecup yang memang baru kali ini mereka alami. Kecupan yang dalam dan nikmat, yang begitu saja meruntuhkan dinding persahabatan yang mereka jalin selama kurang lebih satu dekade ini.
Secara tak sadar dan tak langsung, malam itu mereka telah mengakui perasaan terpendam masing-masing. Perasaan yang dulu hanya sebatas perasaan bersahabat, berganti menjadi rasa sayang dan ingin saling memiliki. Bukan, bukan “berganti” melainkan “telah menemui jalannya”. Karena sesungguhnya perasaan itu sudah bersemi dalam hati mereka sejak dulu, sejak pertemuan pertama mereka. Hanya saja karena takdir selalu mempertemukan mereka dalam nuansa persahabatan, perasaan cinta dan sayang itu mau tidak mau harus mereka tutupi dengan alasan takut merusak persahabatan.
Keesokan harinya, Ruli ke rumah Imma lagi untuk berpamitan. Nampak jelas ketidakrelaan menggenangi mata Imma. Tatapannya seakan berkata, “Jangan pergi! Aku butuh kamu di sisiku.”
Begitu pun dengan Ruli. Langkahnya seakan dibebani jutaan ton pemberat. Ingin rasanya dia ulangi kejadian semalam sebelum benar-benar pamit pergi. Namun hanya sebuah pelukan biasa yang bisa dia berikan pada Imma sebagai penutup perjumpaannya. Dan sebuah cinta yang tak terungkap.
Dulu, saat Ruli pergi, Imma memang sedih. Begitu juga saat menjalani hari-hari tanpa kehadiran Ruli di sisinya. Hanya ada sebuah rasa kehilangan sosok sahabat yang selama ini setia dalam suka dan duka. Dan perasaan itu cepat terobati meski rindu menggunung. Tapi kini, saat cinta benar terasa di hatinya, keberangkatan Ruli saja sudah menjadi kiamat buat Imma. Dan ternyata hari-hari setelahnya terasa lebih menyiksanya.
***
Imma berdiri memandangi sebuah boneka katak berwarna pink di sebuah etalase toko pernak-pernik. Ia jadi memikirkan Ruli. Membayangkan dirinya yang terjatuh ke sawah yang berlumpur dan menyaksikan Ruli sedang menertawainya puas. Dia jadi benci sekaligus kangen. Perasaan itu kembali menyulut hatinya, perasaan yang serba dalam ketidakpastian, namun selalu ada kata cinta pada ujungnya. Tiba-tiba saja ia ingin membeli boneka itu. Bergegas dia masuk ke toko tersebut sebelum ada pengunjung lain yang satu hati dengannya. Dia berlari sampai nafasnya tak terkendali.
“Mbak, hh... sa-saya beli boneka katak itu.” Pinta Imma pada seorang SPG.
“Maaf, boneka yang Anda maksud sudah dipesan seseorang, dan ini termasuk limited edition.”
Imma ngotot ingin membeli boneka itu. Hingga terjadilah perdebatan kecil antara Imma dan SPG itu. Mengundang seseorang untuk menghampiri mereka.
“Ehm,” deham seseorang yang bertubuh jangkung dan atletis itu.
“Nah, Mas ini yang pesan bonekanya,” kata si SPG.
Imma terkejut saat melihat sosok lelaki yang dimaksudkan si SPG tersebut. Lelaki itu ternyata...
“Ru-Ruli?”
Lelaki yang memang Ruli itu tersenyum padanya. “Kamu masih ingat aku?”
Imma tak banyak berkata-kata. Ini baginya sebuah pertemuan yang tak terduga. Matanya terbelalak dan mulutnya sedikit ternganga menghadapi hal ini. Ruli nampak berubah. Penampilannya lebih rapi dan lebih baik. Tidak lagi mengandalkan setelan T-shirt dan jeans belelnya, melainkan telah berubah menjadi seorang lelaki rapi berkemeja dan ber-blazer. Tapi ini bukan alasan satu-satunya bagi Imma untuk mengalami shock ringan ini.
Setelah mengambil boneka pesanannya, Ruli mengajak Imma makan siang di sebuah restoran di dekat situ. Kembali mereka larut dalam kebekuan masing-masing. Sementara kotak ingatan mereka terbuka dan menawarkan sejuta kisah manis untuk dikenang dan diceritakan saat itu.
“Lama nggak jumpa, ya? Sepuluh tahun lho!” Ruli mengawali pembicaraan.
“Iya,” sahut Imma singkat. “Sepuluh tahun.”
“Suratku yang itu kamu baca?”
“Iya.”
“Kok nggak dibales?”
“Sorry. Aku sibuk.”
“Im,” tiba-tiba saja Ruli mendekatkan tubuhnya pada Imma yang duduk di hadapannya. Ima jadi terkejut.
“Setelah sekian lama menunggu,” lanjut Ruli. “aku merasa ini lebih lama dari yang kuperkirakan. Untuk sekedar satu rasa saja, aku butuh sepuluh tahun meyakinkannya. Dan untuk sekedar satu kalimat saja, aku perlu sepuluh tahun juga mengungkapkannya. Aku terlalu pengecut untuk berhadapan denganmu. Hingga banyak hal yang harus kupertaruhkan, bahkan kukorbankan karena kepengecutanku ini. Waktu memang bukan segalanya. Tapi ternyata waktu menjadi sangat penting setelah dia tersia-siakan. Dan karena itulah, aku mulai menghargainya. Kita memang tak boleh memasrahkan segalanya pada waktu, meskipun kita tak pernah tahu apa yang akan dilakukan sang waktu pada kita selanjutnya. Tapi jika waktu itu di depan mata kita, jangan sekali pun kita berpaling lantas mengabaikannya. Karena mungkin saja itu akan menjadi saat satu-satunya bagi kita. Beruntunglah aku masih bisa menemui kamu. Mungkin ini adalah kesempatan kedua untukku, untuk mengatakan bahwa aku...”
“Rul,” tahan Imma. “Aku tahu apa yang akan kamu katakan. Tapi percayalah, ini tidak secepat dan semudah yang kamu inginkan setelah sekian lama waktu memenjarakan kita dalam permainannya. Kita memang tak pernah tahu apa lagi yang akan dilakukan sang waktu pada diri kita. Karenanya aku tak berani mengambil risiko membiarkan diriku terhanyut dalam gelombang ketidakpastian. Tentang perasaan itu, aku percaya kita sama-sama merasakan dan menyimpannya di lubuk hati terdalam. Tapi kini semuanya sudah menjadi bagian dari permainan waktu berikutnya. Tahukah kamu, Rul? Selama sepuluh tahun ini sudah banyak yang terjadi, yang datang dan yang pergi, yang tinggal dan yang mati. Dan meskipun memang ada perasaan diantara kita, namun ternyata kita tak pernah bisa lepas dari jeratan sang waktu itu sendiri. Aku harap kamu mengerti situasi ini.”
Ruli terdiam. Sepasang cincin yang hendak ditunjukannya pada Imma, dimasukkan kembali ke saku blazernya. Beberapa saat kemudian Imma bangkit dari duduknya lalu pamit pada Ruli. Imma berjalan meninggalkan restoran yang memaku diri Ruli dalam berbagai haru biru perasaan.
Kini Imma telah berada di depan sebuah gerbang Play Group. Tak lama dia di situ, seorang bocah kecil berlari menghampirinya. Anak lelaki itu kemudian menyalami dan mencium kedua pipi Imma. Tiba-tiba saja Ruli sudah berdiri di belakang Imma. Kontan Imma terkejut.
“Ini, ada yang ketinggalan.” Ruli menyerahkan bungkusan yang berisi Pinky Frog itu pada Imma. Dengan tulus Imma menerimanya.
“Buat aku ya, Om?” kata lelaki kecil yang sembunyi di belakang tubuh Imma.
Ruli menurunkan tubuhnya, mendekati anak lelaki itu. “Tentu saja, anak cakep. Nama kamu siapa?”
“Aku Ruli,” kata lelaki kecil yang ternyata sudah fasih mengucap huruf R itu.
Suara klakson sedan memanggil Imma dan Ruli kecil untuk segera pulang. Di dalam sedan yang mewah itu nampak seorang lelaki berpenampilan elegant duduk di kursi kedua. Pak sopir membukakan pintu untuk Imma dan lelaki kecil itu. Mobil pun mulai melaju. Meninggalkan Ruli dalam kesendirian.
Di dalam mobil, Imma nampak sangat menyesal. Apa yang dikatakan Ruli tentang waktu, selalu berputar-putar di benaknya. “Jika waktu itu di depan mata kita, jangan sekalipun kita berpaling lantas mengabaikannya. Karena mungkin saja itu akan menjadi saat satu-satunya bagi kita.”
Tiba-tiba saja hatinya tergerak untuk melakukan sesuatu. Sesuatu yang selama ini tertunda-tunda. Saat dilihatnya sosok Ruli yang masih berdiri di tempatnya, Imma seakan mendapat panggilan untuk bersegera menemui Ruli.
“Im?” Ruli terkejut saat Ima kembali padanya.
“Aku nggak mau berlama-lama lagi menunggu untuk bilang kalau aku sayang dan cinta sama kamu. Aku nggak perduli kalau akhirnya aku yang harus mengatakannya terlebih dahulu. Karena aku nggak rela membiarkan sepuluh detik atau sepuluh jam bahkan sepuluh tahun lagi menjadi waktu yang nggak berarti sama sekali.”
“Aku... aku juga cinta dan sayang sama kamu, Im.” Ungkap Ruli. Mereka pun berpelukan. Namun terpaksa Ruli melepaskan pelukan Imma saat Ruli kecil juga turun dari mobil dan menghampiri mereka. Ruli jadi berpikir lain.
“Tante, tante mau ngembaliin boneka kataknya ke Om ini, ya?” tanya Ruli kecil setibanya di hadapan mereka. “Bonekanya ketinggalan di mobil. Nih, aku bawain. Kata papa, anak laki-laki nggak boleh main boneka.”
“Tante?” tanya Ruli, mengulang sapaan Ruli kecil.
“Ya, tante,” angguk Imma.
“Jadi...?” Yeah!!! Ruli pun berteriak penuh kebahagiaan. Dipeluknya Imma lekat-lekat. Sambil terus menerus mengucapkan kata cinta padanya. “Akhirnya, penantian kita selama sepuluh tahun ini menemukan jalannya juga. Im, maukah kamu...?”
“MAU!!!” tanpa berlama-lama lagi, Imma menyatakan kesanggupannya.***
| Selasa, 10 Januari 2006 22:00 |
Punya ide tentang lanjutan karya ini ? Saat ini belum ada yang menulis lanjutannya. Ayo lanjutkan karyanya.
sorry yah kalo keberatan...tapi klise gitu deh...
whatever...gaya bertutur kamu bagus kok...ringan mudah dipahami..Tapi memang kurang greget
Hmmm.... terus terang dari kisah yang diangkat memang sangat klise. Plotnya pun seolah tak baru.Ketemu di acara A, ketemu lagi saat B, di akhiri dengan C.
Tetapi, harus diakui, kamu sebenarnya punya tehnik bertutur yang baik. Dialog yang kamu gunakan pun tidak mentah.
Namun sayangnya, membaca tulisan ini seperti baru membaca draft kasar sebuah novel. Bila dibuat dalam short story, kesannya tidak greget.
kisah yang kamu tulis ini termasuk kisah yang biasa diangkat ya? kisah sepasang sahabat cewe cowo yang akhirnya salih suka. menurutku penyampaian kamu bagus, ngalir. tapi, kayaknya kalimat yang kamu pake agak panjang2 ya...?