“Durasi perendaman telah mencapai 23 jam 45 menit. Mencatat adanya masalah dalam Program Hercules.”
“Kadar nitrogen dalam darah meningkat. Persentase melewati titik kritis pertama.”
“Anomali pada sistem saraf pusat. Lonjakan elektris berpotensi merusak neuron.”
“Titik kritis kedua telah dilampaui. Mendekati titik kritis terlarang.”
Baca lebih lanjut (ada 1301 kata)
***
Cairan bening dalam tabung menyurut. Josh membelalak. Selang di wajahnya ia tarik. Paru-parunya berusaha mencari udara. Sebelum terlanjur ia mati, pintu tabung terbuka. Josh berusaha melangkah keluar dan nyaris jatuh. Tubuhnya terbungkuk dengan napas memburu.
Seorang pemuda mendekat.
“Apakah... Program Hercules telah mencapai titik maksimal...?” Josh mencoba bertanya dengan suara terputus-putus.
“Belum.”
“Lalu, mengapa dihentikan?”
“Kau hampir mati.”
Tempurung lutut Josh seperti kehilangan daya cengkeram. Ia bersimpuh.
“Aku ingin... program itu dilanjutkan....”
“Setidaknya, setelah kau beristirahat. Jika kau mati, siapa lagi yang akan mengurusi kami? Tuan Morgan mempercayakan semuanya padamu.”
Josh menepis tangan staf laboratorium. Ia tidak ingin dipandu untuk berdiri.
“Oh iya, Josh. Saat kau direndam, staf mesin waktu telah merampungkan program pelacak. Kami telah mengaktifkan Cyclops-track . Viper kini mengawasi Pos Jembatan Portal milik DINA. Apa yang harus kami lakukan selanjutnya?”
Josh mencoba tegap. Lututnya masih goyang dan isi otaknya masih terasa berputar.
“Sesuai rencana.... Ambil alih pos itu. Nonaktifkan mesin waktu mereka.”
“Baik.”
Josh jatuh tak sadarkan diri.
***
Dasar Astro. Ia melarikan diri seenaknya. Padahal, barang yang ia rampas masih belum sempat ia setor. Sandera yang ia bawa juga belum ia bunuh atau dikembalikan ke keluarganya. Alhasil, polisi dan DINA kembali repot memburunya. Morganred dengan segala kepentingannya, juga turut terjun ke masa lalu.
Hanya, pendekatan yang diambil organisasi hitam itu agak berbeda. Ketika polisi dan DINA menurunkan hampir dua ratus personil, Morganred hingga kini terhitung hanya melepas tiga anak buah. Hein sendiri mendapat giliran pertama. Setelah gagal mengakhiri cerita Astro, hingga pagi ini ia masih setengah pincang mencari alamat.
“Mengapa kita masih terfokus pada giganium? Bukankah, masih ada barang yang dapat kita jual? Atau, bagaimana jika kita beralih ke kristal energi milik meriam pelindung negara lain?” Josh sempat menerima telepon dari Tuan Morgan. Tepatnya, satu hari lalu, sebelum ia direndam di tabung kaca laboratorium.
“Giganium milik DIVENN adalah satu-satunya kristal energi versi terbaru. Sudah ada pihak yang berani menawar dengan harga sangat tinggi.”
“Elboria...?”
Terdengar Tuan Morgan sedikit tertawa.
“Aku menelepon, selain menanyakan giganium, juga ingin mengetahui perkembangan Program Hercules. Bagaimana dengan proyek tersebut? Aku harap, ia berjalan dengan lancar. Aku ingin ia menjadi komoditas selanjutnya. Kalau perlu, kita juga berperan sebagai penyedia subjek program.”
“Kami sudah mencoba pada Hein. Tapi, ia gagal menangani Astro. Mungkin, itu karena ia menggunakan 25% kemampuan potensial Program Hercules. Meskipun ia telah melewati program dengan mulus, kemampuannya tidak dipompa ke titik yang paling maksimal.”
“Aku ingin ada yang mencoba dengan kemampuan 100%.”
“Rencananya, saya sendiri yang akan mencoba. Tapi sebelum itu, Viper dan Aries akan kurendam terlebih dahulu. Mereka akan menggunakan titik 75%. Bagaimana pun, saya harus melihat efek yang timbul.”
“Terserah padamu. Lakukan apa saja yang kau anggap dapat mengembangkan proyek ini. Tetapi ingat, jangan sampai kau membuang-buang waktu untuk mendapatkan giganium. Untung besar akan hilang. Sekarang, aku sedang berlibur. Jangan menggangguku, kecuali aku sendiri yang menelepon.”
Tut..., tut..., tut....
Dan berselang hampir tiga hari usai Hein, pihak Morganred berhasil melacak ujung portal milik DINA. Viper pun dilepas. Seharian penuh, ia berjaga di sebuah kamar hotel. Matanya tak lepas dari monitor notebook yang terus menyala.
“Sedikitpun, jangan alih pandangan dari Pos Jembatan Portal.” Itu pesan dari Aries. Usai berpesan, batang hidungnya baru tampak pagi ini.
“Bagaimana pos jaganya?” Pintu kamar tak dikunci. Dengan enteng, Aries memutar gagang dan telah menyentak Viper dari tidur. Padahal, ia baru terlelap beberapa menit.
Viper menyingkirkan majalah dari wajahnya. Ia terbaring di kasur dengan serakan majalah anak-anak.
“Kau tidak tidur selama mengawasinya, kan?”
“Jika tidur, namanya bermimpi, bukan mengawasi.”
“Kalau begitu, bagaimana?”
“Tidak terjadi apa-apa. Penjaganya tetap tiga orang. Dua orang dari DINA dan satu orang polisi. Tetapi beberapa jam lalu....” Viper melirik jam tangan. “Lima orang personil polisi dan DINA mendatangi pos jembatan. Mereka tidak membawa Astro atau barang mencurigakan. Dan setelahnya, mereka tidak terlihat lagi.”
“Mungkin, ada hubungannya dengan kejadian semalam.” Aries telah menyeret kursi. Jemarinya asyik mengutak-atik keyboard notebook .
“Kejadian semalam?”
“DINA dilabrak asteroid. Banyak asteroid berjatuhan.”
Viper terlonjak.
“Asteroid? Bagaimana bisa?”
“Aku tidak peduli bagaimana caranya. Yang pasti, gedung DINA dan DIVENN hancur oleh asteroid. Pulau markas kita juga nyaris tenggelam.”
“Fuh....” Viper menumbangkan tubuh di ranjang. “Jika benar tenggelam, aku akan bersyukur karena berada di sini.”
“Jangan bercanda kau! Sekarang, lebih baik kita pergi. Giliran kita yang melabrak portal milik DINA. Kau sudah memikirkan cara yang cocok?”
Viper bangkit. “Kau selalu memintaku berpikir. Kenapa kau tidak berpikir sendiri? Lihat saja ke dalam tas yang ada di bawah meja!”
Aries menunduk. Setelan oranye ia tarik dari kolong meja.
“Petugas perbaikan AC?” Aries berputar menghadap Viper.
“DINA menyewa ruangan dengan beberapa buah AC. Kita bisa menjadikannya alasan untuk masuk.”
“Bagaimana cara menonaktifkan portal?”
“Ada dua benda lagi di dalam tas.”
Sebuah tabung metalik berada di genggaman Aries. Panjangnya sekitar lima belas sentimeter. Kedua ujungnya dilapisi kaca. Beberapa lampu indikator juga terlihat.
“Bom?”
Viper tersenyum. “Aku sempat memesannya pada staf mesin waktu tadi malam. Hati-hati. Itu adalah bom dengan daya ledak tinggi. Jika meledak, setengah hotel ini akan hancur.”
“Kau ingin membunuh kita berdua atau ingin mematikan portal DINA?” Silinder metalik itu kembali ke dalam tas.
“Jangan salah. Dengan ledakan yang sangat besar, mesin waktu milik DINA pasti bercerai-berai. Mereka tidak akan pernah bisa memperbaikinya kembali.”
“Dan ini?” Aries mengangkat benda hitam terbungkus plastik.
“Pengharum ruangan. Kuharap, kau belum menyobek bungkusannya. Kau bisa tidur sepanjang hari karena aromanya.”
“Oke, aku sudah paham. Kita berangkat.”
Aries berganti kulit dengan seragam oranyenya. Ia menenteng tas berisi silinder metalik dan keluar dari kamar. Viper menyusul usai membereskan notebook .
Usai check out , mobil mereka meluber ke jalan raya yang telah padat. Aries menyetir dengan ringan. Bayang-bayang berhasil telah tergambar. Mesin milik DINA akan hancur usai ia melempar bom. Portalnya akan tertutup. Dengan sedikit akal licik, maka portal akan kembali. Namun, kali ini portal waktu berasal dari sumber yang berbeda. Morganred akan menggantikan lubang tersebut.
Jalanan berkelok. Tak sampai sepuluh menit, Aries telah berada di dalam lift yang menuju lantai 14. Viper menunggu di mobil. Ia melanjutkan tidur.
***
“Siapa?” Pintu terbuka kecil. Seorang pria berkemeja putih terlihat di baliknya.
“Petugas service . Saya hendak memeriksa AC.” Aries mulai berakting.
“Tidak ada yang aneh dengan AC di sini.”
“Ini tugas rutin, Pak. Harus saya lakukan.”
Pria itu berputar.
“Ada petugas yang ingin memeriksa AC. Dipersilakan masuk?”
Seorang pria lain mendekati pintu. Matanya terlihat tajam.
“Berdiri di atas keset!” pintanya.
Aries bertampang linglung.
“Berdiri saja di atas keset,” tambah pria yang membuka pintu.
Aries menjangkakan kaki satu langkah. Begitu kedua kakinya telah berada di atas anyaman sabut kelapa bermotif “WELCOME”, pria kedua berputar.
“Bersih?”
Pria ketiga mengangguk. “Tidak ada senjata.”
Aries sedikit kagok. Ia ternyata menginjak keset yang ditanami scanner . Setelah mendapat izin untuk masuk, ia berhasil melirik monitor milik pria ketiga. Sekilas, terpampang gambar organ-organ tubuhnya di sana. Mereka menggunakan pemindai-bangun (mapping-scanner ) beresolusi tinggi. Pembuluh kapiler darahnya pun pasti tak luput dari pemindaian tadi.
Hanya sekilas, dan gambar itu menghilang. Pria ketiga menggantinya dengan jendela sebuah aplikasi. Aries tidak tertarik. Kepalanya berputar mencari sasaran.
Sebuah AC ia temukan. Aries mendekat dan mulai membuka tasnya. Untuk beberapa menit, ia bertingkah layaknya petugas profesional. Pemeriksaan ia akhiri dengan menggantung pengharum ruangan.
“Pengharum ini beraroma jeruk. Cocok untuk membangkitkan semangat kerja. Layanan tambahan.”
Semua menoleh. Sebuah benda mungil menggantung di mulut AC. Aries segera undur diri dan menatap jam tangannya begitu melewati pintu. Setelah lima menit, ia akan kembali masuk. Ia berharap, tiga penjaga di sana telah tertidur pulas. Dengan leluasa, ia dapat melacak keberadaan portal yang sepertinya tersembunyi. Setelah terlihat, maka kendali di dalam tangan.
Kereeen! Cuman byk yg gak mudeng. Tp saya suka cerita macam ini.
Maklum, ini bab ketujuh dari novel yang kini dipersiapkan akan menjadi sebuah trilogi^^
Bagus.Tapi kayaknya ada yang agak janggal...*bengong*
Hmm. Cerita ini selalu susah dinilai. Tapi sejauh ini cukup seru.
Dipotong biar gak kepanjangan ya. Tak tik yang pas, biar gak capek dibaca.