Ayam yang berkokok, sontak menelan suara mereka di tenggorokan. Sonia yang tersentak bangun, mengambil alih paduan suara mereka untuk membangunkan orang-orang di subuh hari.
Baca lebih lanjut (ada 2243 kata)
Di kamarnya, Sonia terduduk di tempat tidur. Tubuhnya basah seperti habis mandi. Keringat bercucuran di mana-mana. Napasnya turun naik. Usai membuka mata dan mendapati tidak berada di tengah hutan dan berjumpa seekor ular besar, seperti yang terakhir kali ia lihat, ia pun menyadari sesuatu. Ia hanya bermimpi. Dan sekarang, ia telah terbangun dengan disambut kamar yang acak-acakan. Separuh tubuhnya tenggelam oleh barang belanjaan yang ia borong kemarin.
“Sekarang, sudah jam berapa?”
Beberapa barang mulai disingkirkan. Ia berharap, sebuah benda mungil akan muncul dari tumpukan baju yang mendominasi barang yang ia beli. Namun, terbangun akibat mimpi buruk, membuat otaknya booting tidak sempurna. Ia merasa sangat sulit untuk fokus, terlebih untuk mencari jam tangan sebesar uang logam. Ia akhirnya lebih memilih turun dari tempat tidur. Dengan mudah, ia melupakan sebuah benda lain dengan fungsi identik yang menempel di dinding kamar.
Matanya melirik jendela. Begitu jendela dibuka, terdengar lantunan azan.
“Azan? Berarti sudah subuh. Harus salat.”
Sebelum salat, ia merapikan barang sekenanya. Yang penting, tidak menganggu. Namun setelah salat, ia pun bingung. Pintu kamarnya terkunci. Sementara kunci kamarnya sekarang, entah bersembunyi di mana.
Masalah baru kembali muncul. Gara-gara mencari kunci, isi kamarnya kembali tunggang-langgang. Ia pun berniat merapikan seraya mencari kunci kamarnya.
“Hah...! Gara-gara kegirangan, overbelanja....” Sonia pun mengeluh.
Di luar kamar, Gaya berlenggang anggun dengan setelan kaos olahraga. Sebuah kacamata hitam menjadi pelengkap busana gadis berwajah bayi tersebut.
Bahkan saat meniti anak tangga, ia sama sekali tidak menghilangkan alunan kaki yang flamboyan. Sebagai seorang normal, hanya dalam keadaan sepi seperti ini ia berani bertingkah nyentrik seperti itu. Tumbuh sebagai seorang gadis berwajah imut dan berpembawaan polos, membuat ia iri terhadap Alisya. Ia juga iri terhadap teman-teman yang bisa bersikap tegas. Sesekali, ia ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi seseorang yang tegas. Caranya mungkin agak salah, tetapi ia menikmati cara itu.
Melewati ruang tengah, telepon berdering. Gaya berharap, telepon itu hanya berdering tiga kali dan akhirnya mati. Tetapi, rupanya bertahan hingga deringan ke sepuluh. Untuk deringan ketiga belas, Gaya akhirnya menganggak gagang telepon. Ia menyapa seorang pria di ujung sana.
***
Sonia masih berkutat dengan pakaiannya ketika Gaya mengetuk pintu kamar.
“Sonia?”
“Iya. Siapa?”
“Aku. Gaya.”
“Dobrak saja pintunya. Kuncinya hilang.”
“Nia!”
“Apa?”
“Ada telepon untukmu.”
“Dari siapa?”
“Tidak tahu.”
“Ditanya, dong!”
“Iya! Iya!”
Buru-buru, Gaya menghampiri telepon dan menyapa si penelepon dengan ucapan, “Maaf. Bapak siapa, ya?”
“Saya ayah Sonia.”
“Oh....” Ia lalu menutup gagang telepon dengan tangan. “Soniaaaaa! Dari ayahmuuuuu!”
“Ayah?” Langsung, Sonia melemparkan pakaian yang ada di tangan. “Disumbangkan sajalah pakaiannya!” Ia berdiri ke pintu dan berteriak, “Apa katanya?”
“Apa?”
“Apa katanyaaaaa?”
Gaya kemudian berbicara kepada ayah Sonia. “Pak, karena suatu hal, kunci kamar Sonia hilang. Ia sedang terkunci di kamarnya. Jadi, saya yang akan mewakilinya.”
“Ah, jadi membuat Anda repot.”
“Tidak.”
“Oke. Saya sebenarnya ingin menyapa Sonia. Sudah bangun atau belum?”
“Cuma itu?”
“Yes, that's it!”
Gaya kembali menutup gagang telepon.
“Sonia! Ayahmu cuma mau tahu, kamu sudah bangun atau belum?”
Sonia yang menyandar di pintu dengan lesu, langsung cemberut. Bibirnya maju dan pipinya menggelembung. “Aku pikir ada hal yang penting,” ujarnya jengkel. Segera, ia balas berteriak, “Katakan saja kalau aku belum bangun!”
Gaya mengangguk dan berbicara pada gagang telepon. “Pak, kata Sonia, dia belum bangun.”
“Oh, begitu? Terima kasih. Thank you!”
Telepon ditutup.
Kini, Sonia berganti rupa. Ia mengenakan pakaian hitam-hitam bagai seorang penyusup. Ia hendak turun dari balkon yang berada di lantai dua.
“Aku tidak ingat bahwa aku pernah membeli pakaian ini.”
Sonia mengulur untaian kain dari sprai, sarung bantal, hingga beberapa pakaian dan kaus kaki menjadi satu. Cukup panjang, hingga ujung yang di atas berada di balkon, sementara ujung di bawah menyentuh tanah.
Pelan-pelan, ia mulai meniti turun. Dengan bekal keahlian pernah memanjati tembok kedutaan Indonesia di Australia, ia berhasil turun dengan mulus seperempat jalan. Ia tersandung masalah ketika salah satu simpulan kain mendadak lepas. Padahal, ia hampir menjejakkan kaki di tanah. Akibatnya, ia pun terhempas dengan keras. Terkapar dengan mengenaskan.
“Aku pasti kurang kencang mengikatnya....” Gadis itu meratap. Isi kepalanya bagai dikocok dalam blender.
Di atas, Gaya berhasil membuka pintu kamar Sonia. Ia sedikit melongo mendapati kamar itu kosong tanpa sang pemilik.
“Hei!” Seseorang menepuk pundaknya. Gaya menoleh dan terperanjat.
“Astagfirullah! Sonia?”
“Kalau bukan aku, siapa lagi?”
“Maling.”
“Enak saja!”
“Lagi pula, mengapa kamu berpakaian seperti itu? Membuatku kaget.”
“Hanya ingin menghayati peran. Aku tadi turun dari balkon. Sayang, ada sedikit gangguan teknis. Sementara Kakak.... Mau lari pagi, ya?”
“Rencananya begitu, sekaligus latihan beban. Pinjam mobil kamu untuk diangkat. Tapi gara-gara telepon dari ayahmu, terpaksa dibatalkan.”
“Ngomong-ngomong, bagaimana caranya bisa membuka pintu kamarku? Didobrak?” Sonia melangkah masuk dengan berjinjit. Banyak barang berserakan di lantai kamar. Dan ia tidak tahu apa-apa saja yang berada di balik barang-barang itu. Bisa saja jarum, bahkan perangkap tikus.
“Tidak. Dengan kunci. Bukankah, kau meminjamkanku kunci cadangan seluruh rumah?” Gaya mengangkat sebuah untaian di tangannya. Terdengar suara gemerincing ketika benda-benda logam itu beradu.
“Begitu, ya?”
“Sonia.”
“Apa?”
“Bagaimana ceritanya kamar kamu bisa seperti ini?”
***
LABTEK-DINA sedikit berserakan dan nyaris gelap gulita. Usai sebuah guncangan cukup besar tadi malam, mendadak hanya beberapa lampu di ruang operator yang menyala. Beberapa komputer juga mati mendadak dan menyisakan tiga unit yang masih standby.
Di bawah penerangan seadanya, Profesor Irene, Ayu, dan Digta berusaha memperbaiki mesin waktu yang kembali mengalami masalah. Usai guncangan, mendadak udara bergelombang di antara dua menara lengkung menampakkan gejala hendak lenyap. Sebelum portal waktu benar-benar hilang, mereka bergegas mencari kerusakan dan sebisa mungkin untuk menormalkannya kembali.
“Aku sudah memeriksa di bagian ini berulang-ulang. Tidak ada yang salah....” Profesor Irene terdengar mengeluh. Ia yakin benar. Bahwa menara lengkung yang ia periksa sama sekali dalam kondisi baik. Tidak ada komponen yang membandel.
“Bagaimana denganmu?” Profesor Irene berbalik. Ia mendapati Ayu tiba-tiba saja disambar bunga api. Profesor Irene terkaget, namun Ayu hanya menggetarkan tubuhnya dan melanjutkan pekerjaan yang ia lakoni sekarang. Ia mendapat tugas untuk memeriksa kabel tenaga dan data.
“Aku yakin, tidak ada sambungan kabel yang longgar. Sudah berkali-kali kuperiksa, berkali-kali pula aku kesetrum.”
“Pasti sakit. Rambutmu sampai seperti itu....” Profesor Irene bergidik. Sepertinya, ia yang merasakan aliran listrik menjalar kejam di seluruh jaringan tubuhnya. Ayu dengan tatanan rambut semraut, hanya menggaruk kepala yang mendadak gatal. Ia berdiri dan menuju komputer.
“Aku lupa menggunakan sarung tangan...,” ujarnya datar. Ia sedikit membuat Profesor Irene merasa aneh. Selama hampir satu minggu dalam satu tim saat perbaikan mesin, Profesor Irene menganggap Ayu adalah sosok pendiam, karena mungkin ia adalah gadis pemalu. Namun pada kali ini, ia sadar. Gadis tersebut ternyata termasuk kategori pendiam, karena ia memang menganggap sekelilingnya adalah hal biasa, dan berusaha bersikap tidak peduli.
“Bagaimana denganmu?” Profesor Irene berputar ke arah berlawanan. Sesuatu terdengar terbentur.
“Aduh!”
Portal waktu secara menakjubkan kembali stabil.
Digta berdiri dari menjongkok. Ia mengelus ubun-ubunnya yang terasa perih.
“Hanya komponen yang longgar. Ada beberapa yang bergeser. Kurasa, akibat guncangan tadi. Aduh..., benjol....”
“Bagus. Hanya komponen yang longgar. Kita telah menghabiskan waktu kurang lebih enam jam untuk mencarinya.” Profesor Irene melangkah mendekati Digta.
“Lebih baik jika semuanya rusak, pekerjaan kita jadi lebih jelas.”
“Tapi, itu tidak juga begitu baik. Yang pasti, kau sudah memperbaikinya dan memastikan bagian yang kau temukan itu tidak mudah bergerak lagi, bukan?”
“Yap. Sudah kuputar bautnya sekencang-kencangnya. Aduh..., pasti baru hilang tiga hari lagi....”
“Apa?”
“Tidak.... Benjol....”
Mereka kembali ke ruang operator. Profesor Irene menghampiri Ayu. Ia telah berulang-ulang memutar rekaman kejadian tadi malam. Sebuah sinar terang mendadak menghiasi pelataran parkir di area depan. Setelah itu, gelap.
“Asteroidnya pasti jatuh di sekitar gedung....” Terdengar Ayu berujar.
“Semoga yang lain selamat....”
Ayu mengangguk kecil. Tayangan segera berganti ke desktop sistem operasi komputer. Dengan beberapa gerakan jemari di keyboard, beberapa jendela program aplikasi terbuka berurutan.
“Kau masih mencoba untuk menghubungi pihak luar?”
Ayu lagi-lagi mengangguk pelan. Matanya tajam menatap batangan proses yang terus terisi. Helaan napas kecewa kemudian terhembus ketika muncul pesan gagal.
Gadis tersebut menggeleng. “Kerusakan pada jaringan informasi DINA pasti sangat parah....”
“Bersabar....” Profesor Irene menepuk pundaknya.
Di kursi lain, ada Digta yang terus mengawasi sekeliling. Sebagian besar wajah LABTEK tidak terlihat. Beberapa mesin sengaja dimatikan secara otomatis saat pasokan listrik dari pusat terputus. Termasuk proses pengisian ulang daya MIGEN. Tempat ini benar-benar bekerja dalam kondisi minimal.
“Kira-kira, sampai kapan semua ini bertahan? Kita sudah terperangkap di sini hampir tujuh jam. Sekarang sudah jam lima pagi.”
“Dengan konsumsi listrik minimal dan daya tampung dua puluh orang, kita masih bisa hidup selama sepuluh hari. Semua bunker yang ada pada DINA, didesain khusus untuk beberapa alasan. Di antaranya, jika terjadi bencana cukup besar atau sabotase dari pihak-pihak tertentu. Termasuk laboratorium ini.”
“Wow...., lebih hebat dari Borneolab.”
“Oh iya, aku membawa ponsel. Mungkin, kita bisa menghubungi pihak luar untuk meminta bantuan.” Digta menyambar sebuah benda dari saku jas miliknya. Sebuah benda merah muda dengan beberapa tombol angka. Ia mengaktifkan pengaman tombol. Gambar dinding kebun stroberi membentang menyambutnya. Sebelum menekan sebaris angka, matanya terbentur sesuatu.
“Sayang. Bunker DINA tidak dapat ditembus oleh sinyal apapun, dari dalam maupun luar. Antisipasi jika terdapat bahan peledak.”
Ayu benar. Batangan sinyal pada ponsel Digta sama sekali tidak ada.
“Fuh...! Apa yang dapat kita lakukan sekarang? Kau yakin, tidak dapat mengeluarkan kita dari sini? Setidaknya, membuka hubungan ke dunia luar.” Digta benar-benar mengeluh. Ia memang telah banyak menghabiskan umur hidupnya di laboratorium, bekerja dengan banyak barang-barang elektronik, terluka, kadang-kadang tersetrum. Semua itu tidak membuatnya begitu saja merasa bosan berada di tempat seperti itu. Namun, jika keadaannya seperti ini, siapa pun pasti akan bosan.
“Elevator barang masih dapat berfungsi dengan baik. Tetapi, guncangan tadi malam telah merusak sistem hidrolik pintu koridor menuju elevator. Lift untuk staf sepertinya juga mengalami kerusakan cukup parah, hingga tidak menyala.” Ayu memutar kursi yang ia tempati. Ia melirik pintu lift yang berada cukup jauh. Lampu indikator yang seharusnya menyala, kini sama sekali tidak ada tanda-tanda kehidupan.
“Bagaimana dengan MIGEN? Kita bisa menggunakannya untuk mendobrak pintu,” usul Digta.
Profesor Irene menggeleng pelan. “Status energi terakhir, tidak cukup untuk menyalakan mesin. Perlu waktu sekitar setengah jam lagi untuk mencapai batas energi minimal.”
“Kalau begitu, cas lagi.”
“Jika kalian setuju untuk mengambil resiko, akan kunyalakan kembali terminal isi ulang.” Ayu kembali bicara.
“Resiko apa?”
“Aku sudah menghitung. Mengisi daya MIGEN selama setengah jam, akan mengurangi pundi listrik sebesar dua puluh lima persen. Dan tujuan kita adalah naik ke permukaan dengan elevator barang. Karena suplai listrik dari pusat terputus, kita lagi-lagi harus menggunakan pundi cadangan. Dan elevator barang akan mengkonsumsi sekitar dua puluh persen.”
“Sebesar itu?” Digta sedikit terbelalak.
Ayu mengangguk kecil. “Dan kondisi cadangan listrik kita sekarang tinggal sembilan puluh lima persen. Terlalu cepat berkurang, karena aku sempat mencoba menggerakkan elevator barang dan lift untuk staf. Lagi pula jika kita ke luar, apakah lingkungan di permukaan sana cocok untuk menopang kehidupan?”
“Ayu benar,” tanggap Profesor Irene. Ia mengambil tempat duduk. “Siapa tahu, di luar masih sangat kacau. Kita merasakan sendiri bagaimana guncangannya, bukan? Kita hanya bisa menunggu....”
“Bagaimana jika polisi-polisi itu berhasil menangkap Astro dan membawanya kemari?” Digta sepertinya masih berkeras untuk keluar dari LABTEK.
“Pada saat itu, lebih baik kita berdoa bahwa kerusakan yang timbul sangat-sangat parah. Ketika Astro berhasil dibawa melewati portal, aku akan mematikan mesin waktu dan merusaknya lebih parah dari apa yang pernah ia lakukan. Kuharap, kalian rela untuk mati bersama.”
Semua terdiam. Profesor Irene dan Digta saling toleh. Kepribadian Ayu tak seayu namanya. Ia ratu es. Dingin.
“Lebih baik, kalian tidur. Aku yakin sekali, semalaman kalian bekerja seperti makhluk nokturnal.”
Semua menoleh Niken. Wanita itu baru terlihat pagi ini. Ia menghilang ketika Ayu dan yang lain sibuk memeriksa mesin waktu. Ia datang dengan cangkir yang mengepulkan uap hangat. Dan tangan yang dibalut oleh perban. Sebelum benar-benar menghilang, ia terlihat mencoba membuka pintu menuju lift barang yang macet.
“Kalian bisa beristirahat di dapur. Ada meja kosong yang kurasa cukup untuk dua orang. Tempatnya juga hangat jika kalian menyalakan kompor. Itu pun jika kalian bersedia mencoba caraku.”
“Aku tak pernah tahu bahwa meja tersebut sangat bermanfaat. Aku pasti akan menyuruh Bili tidur di sana lain kali.” Ayu menyela.
“Maksudku, tidak untuk setiap saat. Hanya untuk waktu-waktu tertentu saja,” tambah Niken.
“Ngomong-ngomong soal Bili. Aku memintanya untuk segera kembali ke LABTEK. Tapi hingga terakhir kali semua sistem berjalan lancar, Bili masih belum terlihat. Aku khawatir....” Ayu memperhatikan gelang multifungsi miliknya. Hanya ada deretan angka dengan dua tanda titik yang berkedip.
“Dia mungkin ada di bunker bersama yang lain?” tebak Profesor Irene.
“Semoga dia selamat. Kuharap, ia tidak mati jika kehancuran di luar sana cukup parah.” Ucapan Ayu yang cukup dingin, sedikit menyentak telinga Digta.
“Mati...?”
“Mungkin, lebih baik dia mati. Setidaknya, orang yang kau benci itu telah lenyap dari dunia.”
Hati Digta begetar. Bukan! Berguncang mungkin lebih tepat. Dan guncangan itu lebih dahsyat dari guncangan akibat asteroid yang jatuh.
“Kau... menyindirku?”
Ayu menggeleng perlahan. “Aku juga ingin Bili mati. Selama ini, aku membenci pria. Tetapi Bili membuatku kadang-kadang melupakan itu.”
Blum bisa komen.
masih keren koq
Kayaknya ada sejumlah kata yang penggunaannya kurang tepat dan agak terlalu seenaknya, seperti isi kamar yang tunggang-langgang dan booting yang dilakukan otak.
Menurutku, cerita ini sudah mengalami banyak kemajuan lho. Mungkin masih perlu pengeditan, karena menurutku yang 'aneh' masih ada, tapi sebaiknya itu diserahkan ke yang lebih jago saja.