Sebuah pusat perbelanjaan, usai salat Isya. Sonia menyeret Ilyas ke sebuah toko perhiasan. Setelah hampir tiga puluh menit terlantar, Sonia datang menghampirinya.
“Yas, bisa membantuku memasang ini?” Ia mengunjukkan sebuah kotak kecil berwarna merah.
Dengan takut-takut, Ilyas mengambil kotak itu. Dibukanya. Sebentuk benda melingar berwarna emas memantulkan cahaya lampu di sekeliling.
Baca lebih lanjut (ada 2923 kata)
Ia pun mengambil cincin itu dan memasangnya di jari manis tangan kiri Sonia. Setelah terpasang, Sonia tersenyum.
“Yas, tahu tidak?”
“A..., apa?”
“Kalau kamu sudah memasang cincin ke jariku, itu berarti kita sudah tunangan.”
“Ha?” Ilyas kaget. Sementara pemilik toko perhiasan yang kebetulan mendengar percakapan mereka, hanya bisa geleng-geleng kepala.
***
Gaya begitu heran. Ia menemukan Sonia terburu-buru masuk ke dalam kamar. Di tangannya, Sonia menenteng tas belanjaan yang cukup banyak, sambil tertawa cekikikan.
Sonia melempar tas-tas itu sekenanya. Dan ternyata, di kamarnya sudah bertumpuk tas-tas belanjaan lain. Ia hendak ke luar lagi untuk mengambil belanjaan yang dirasa tertinggal, tetapi urung. Ia ingat, bahwa sudah semua ia bawa masuk. Bahkan, sekarung beras yang beratnya mencapai 50 kilogram lebih, juga sudah duduk manis di dapur. Terima kasih atas bantuan personel Divisi Gerakan Cepat bernama Gaya.
Sonia mengunci pintu kamar dan tertawa lebar.
“Ilyas..., Ilyas...!” ucapnya di sela-sela tawa, kemudian melompat ke atas tempat tidur. Ia tak ambil pusing, meski tempat tidurnya sesak oleh barang belanjaan.
Sementara Sonia tertawa senang di kamarnya, Ilyas malah merasa pening dengan wajah kucel di depan meja belajar.
“Apa benar, aku sudah bertunangan dengan dia?”
Ilyas segera menelungkup dan mengucek-ngucek rambutnya.
***
MIGEN telah kembali di tengah LABTEK. Beberapa goresan menghiasi tubuhnya. Dan beberapa kabel, menjulur dari punggungnya dan tertancap di sebuah konektor. Ia dalam proses pengisian daya. Energi penggeraknya nyaris terkuras habis.
Dalam eksplorasi yang ia jalani, Profesor Irene berhasil memastikan fenomena yang mereka hadapi. Penyebab bergesernya Cincin Zeus dan ribuan anggota sabuk asteroid, memang benar akibat ledakan nuklir. Tiga bunker terseret agak jauh menuju planet luar. Tubrukan beberapa asteroid memicu ledakan.
“Bagaimana? Sudah dibalas?” Profesor Irene selalu mendampingi Niken. Mereka menunggu kabar dari kantor pusat Divisi Pengaman Angkasa Nasional. Mereka terlihat kompak dengan kerja sama yang mereka ciptakan. Bili menjadi iri.
Niken menggelengkan kepala. Namun beberapa detik setelahnya, ia sedikit melonjak dari sandaran kursi. Sebuah pesan tertera di monitor.
“Baru saja ada balasan. Mereka telah menerima data dari kita. Dari keempat puluh empat data asteroid bunker dan reaktor nuklir yang mereka periksa, terdapat sekitar tiga puluh sembilan asteroid dengan ukuran nyaris sama.”
“Tiga puluh sembilan? Bukankah yang meledak hanya tiga? Dan bunker serta reaktor yang ada jumlah keseluruhannya adalah empat puluh empat. Ke mana dua yang lain?”
“Kita melakukan pengintaian pada waktu sebelum dan saat terjadinya ledakan. Kita sama sekali belum mengecek apa yang terjadi usai ledakan. Bisa jadi, beberapa bunker atau reaktor itu jatuh di Mars. Atau mungkin, meledak tak lama setelah ledakan mayor.”
“Apakah DEX-3 sempat menangkap citra ledakan itu?”
Niken menggeleng. “Sepertinya..., kemungkinan kedua tidak ada. Kemungkinan pertama lebih besar.”
“Lalu, apakah mereka sudah positif? Ketiga puluh sembilan asteroid tersebut, apakah benar bunker dan rekator? Aku sangsi dengan kemampuan DEX-3.”
“Baru saja aku mengirim pesan dengan pertanyaan yang sama. Dan baru saja pula, mereka mengirim pesan balasan. Mereka positif. Data milik DORGIBA yang kita kirim sangat lengkap, mulai dari lapisan luar hingga susunan dalam asteroid. Jika data lapisan luar tidak cocok, mereka telah mencocokkan dengan lapisan dalam. Karena usai ledakan, banyak asteroid yang berubah bentuk.”
Profesor Irene menyandar. Matanya menerawang. “Tiga puluh sembilan, ya...?”
“Lalu, apa artinya angka tiga puluh sembilan tersebut?” Veren menyela.
“Kehancuran,” jawab Digta. Semua menoleh. “Itu artinya, bumi ini terancam dijatuhi sekitar tiga puluh sembilan bunker dan reaktor nuklir.”
Bili yang sempat berdiri, merasa lemas mendengar pernyataan itu. Tiga puluh sembilan? Bagaimana bisa planet sekecil ini bertahan? Sedangkan ledakan tiga buah bunker nuklir saja, bisa menggiring ribuan asteroid ke luar jalur. Jika dikumpulkan, asteroid-asteroid itu akan membentuk sebuah planet lebih besar dari bumi. Planet biru ini mungkin akan hilang tanpa bekas.
Sebuah nada mengalihkan perhatian Bili. Ia menemukan sebuah pesan tertera di layar komputer miliknya.
“Pak, istri Anda datang ke divisi. Mereka berada di lapangan parkir.” Bili terpaksa berujar dengan tenggorokan yang kering.
“Lapangan parkir?” Kening Veren berkerut. Ia beranjak dari kursi. “Kalau begitu, terima kasih. Aku pergi dulu.”
Veren menghilang di balik pintu lift. Sesampai di lantai atas, ia berharap dapat menemukan seorang wanita berjilbab di ruang tunggu. Namun, begitu melintas di ruang tunggu, ruangan tersebut cukup lengang. Ia benar-benar baru menemukan wanita itu duduk di atas kap mesin sebuah sedan, di pelataran parkir. Seorang gadis cilik juga duduk bersamanya.
“Ada apa, Hilda? Mengapa kau tidak menunggu di ruang tunggu?” Veren mendekat.
“Oh, maaf. Yuni katanya ingin melihat bintang jatuh.”
“Bintang jatuh?”
“Aku sudah menghitungnya, Yah. Ada sembilan bintang jatuh!” Gadis kelas dua SD di sisinya terlihat antusias. Jaket berwarna pink membalut tubuhnya yang mungil.
“Sebanyak itu?”
“Aku tidak tahu kenapa, tapi memang sebanyak itu. Bahkan, aku juga sempat menghitung sejak dari rumah. Ada beberapa yang dilewatkan oleh Yuni. Ada tiga puluh empat bintang jatuh malam ini.” Hilda sedikit berbisik pada suaminya.
“Ayo, kita bicara di dalam. Di sini terlalu dingin untukmu.” Veren mengajak putri tunggalnya ke gedung DINA.
“Tidak, aku ingin melihat bintang jatuh lagi.”
“Dia sudah kuberi jaket,” tambah Hilda.
“Oke, kita bicara saja di sini. Sebaiknya, tidak terlalu lama. Karena udara malam tidak cocok untukmu.” Veren mengambil tempat di tempat duduk yang tak lazim tersebut. Sedikit dingin di atas lempengan besi, tapi ia menyempatkan diri untuk iseng memencet hidung putrinya. Gadis cilik itu terpejam menggemaskan.
***
Bili menikmati setiap gemeretak persendian di tubuhnya. Kedua lengannya terbentang selebar Sungai Nil. Mulutnya membuka bahkan hampir serupa kuda yang berenang di sungai itu. Begitu matanya menangkap wajah Digta, buru-buru ia menutup mulut. Gara-gara gantungan mata inilah, ia memiliki konflik berkepanjangan pada gadis yang beraroma stroberi dan kini duduk menyendiri di sudut ruangan.
Bili menghampiri Ayu. Gadis ini menghabiskan waktunya bermain game di komputer LABTEK.
“Aku pergi dulu,” pamit Bili. “Mungkin, sedikit jalan-jalan akan membuatku sedikit segar. Aku serahkan kontrol mesin waktu itu padamu.”
Ayu mengacungkan jempol. “Tapi kuharap, kau tidak terlalu lama bersenang-senang di luar. Pinggangku juga rasanya sudah membatu.”
“Akan kuusahakan.”
***
“Sudah beberapa hari ini kau tidak pulang....” Hilda terdengar mulai menyinggung alasan ia bertandang ke tempat kerja suaminya. Veren menoleh. “Yuni selalu mencarimu.”
“Astro belum tertangkap dan masih ada masalah lagi yang menghantui kita. Yang kau lihat malam ini bukanlah bintang jatuh, melainkan pecahan asteroid. Mereka berasal dari jarak hampir tiga satuan astronomi.”
“Sejauh itu? Maksudku, bagaimana bisa sebanyak itu?” Naluri seorang lulusan sarjana astronomi terlihat kembali. Mata Hilda agak berbinar ketika mengatakannya. “Setahuku, hanya beberapa asteroid saja yang memiliki eksentrisitas cukup tinggi, sehingga orbitnya memotong orbit Bumi.”
“Sisa-sisa perang, Hilda. Menurut Profesor Irene, itu akibat ledakan bunker nuklir milik Cincin Zeus.”
“Aku sudah menemukan tiga bintang jatuh lagi!” Yuni berseru. Veren mengucek rambutnya gemas hingga wajahnya terlihat masam.
“Jika tidak ada Perang Kosmik, kita mungkin sudah sangat maju. Perang itu menghancurkan segalanya. Menghancurkan teknologi, dan membunuh delapan miliar nyawa manusia, hingga saksi sejarah untuk tragedi tersebut hanya tinggal segelintir dan akhirnya dibiarkan mati.”
“Kau mengetahui hingga sedetil itu?” Veren sedikit terkesima atas ucapan wanita yang telah ia nikahi selama delapan tahun. Perang Kosmik selalu diingat karena besar efek yang terjadi. Jumlah korban sendiri secara jelas tidak pernah terdengar.
“Orang yang kau sebut Profesor Irene yang memberitahuku. Ia adalah sahabatku semasa kuliah.”
“Yang benar?”
Hilda mengangguk.
“Mengapa tidak pernah cerita? Dia sekarang ada di sini. Aku rasa, jangan-jangan kau tidak pernah memberi tahu bahwa aku adalah suamimu padanya.”
“Memang. Habis, setelah cukup lama berpisah, baru kali ini kami kembali menjalin silaturahmi. Setelah berhasil menciptakan mesin waktu di Borneolab, ia baru memiliki sedikit waktu luang. Dan kurasa, sebelum-sebelumnya ia berada dalam lingkup kesibukan yang cukup besar, sehingga semua perhatian tercurah pada proyek yang ia jalani.”
Hilda menarik nafas dan menghela. Memberi jeda pada ucapan selanjutnya.
“Akhirnya, ia berhasil menciptakan mesin waktu yang ia citakan. Sudah lama ia ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Perang Dunia Ketiga, Masa Koloni, dan Perang Kosmik. Mungkin dengan begitu, ia juga dapat mengembalikan teknologi yang hilang.”
Veren menatap putrinya. “Aku rasa, tidak bijak bagi kita membicarakan perang di hadapan seorang anak kecil.”
Hilda mengangguk.
Mendadak, sirene peringatan tanda bahaya milik Divisi Gerakan Cepat meraung membelah udara malam. Yuni terperanjat dan berusaha melindungi gendang telinganya. Hilda dengan cekatan berusaha menyembunyikan Yuni dalam pelukannya.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” Veren terlihat waspada. Sirene ini memang milik DINA yang berkiprah di bidang tindak kriminal. Tetapi kegunaan sirene itu, tidak hanya untuk memperingatkan warga sekitar mengenai penjahat serial yang berkeliaran. Kadang memberi tahu kedatangan banjir, hingga puting beliung. Setahu Veren, belum ada kasus kriminal besar terbaru untuk beberapa minggu ini. Lalu, di mana banjir atau puting beliungnya?
“Perhatian kepada seluruh warga sekitar! Wilayah ini akan mengalami serbuan dari asteroid. Diharapkan untuk segera mengevakuasi diri ke tempat yang lebih aman. Tinggalkan kawasan ini dalam radius minimal lima kilometer, atau mengungsi ke bunker Divisi Gerakan Cepat maupun instalasi perlindungan terdekat di kawasan ini. Segera! Diulangi....”
Suara dari operator yang berjaga cukup untuk memberi jawaban. Ditambah informasi dari Ayu yang mengontak melalui gelang multifungsi.
“Informasi dari DIVENN, Pak. Pilar tidak mampu mengatasi serombongan asteroid. Menurut perkiraan DIVENN, beberapa pecahan akan jatuh di sekitar sini. Bersegeralah untuk berlindung, Pak.”
Komunikasi diputus. Veren melompat dari kap mobil. Baru turun, lima buah ekor cahaya membuat hiasan di langit. Lesatan mereka begitu cepat. Sesaat setelah melintas di ujung kepala Veren dan keluarganya, lima buah ekor cahaya itu menimbulkan getaran yang cukup mengguncang.
“Cepat, kita berlindung!”
Mereka bergegas meninggalkan pelataran parkir. Begitu mencapai pintu masuk DINA, serombongan mobil dan sepeda motor berjubel menyusul mereka.
“Segera ke bunker!” pesan Veren kepada istrinya. “Aku akan membimbing warga yang akan berlindung.”
“Aku menunggumu!” Hilda bergegas.
Karena ia sering diajak tur keliling oleh suaminya di gedung utama Divisi Gerakan Cepat, tidak begitu sulit bagi Hilda untuk menemukan bunker yang dimaksud. Ketika Hilda telah terkunci aman di dalam bunker yang diisi staf DINA yang berjaga pada malam itu, Veren masih menunggu di muka pintu masuk. Ia terpaksa turun kembali ke pelataran karena melihat seseorang terjatuh.
Dalam langkah mereka yang tergesa, Veren sempat menyaksikan arus padat di jalan raya tak jauh dari Divisi Gerakan Cepat. Beberapa kendaraan berbelok ke arah DINA, begitu pula hampir seluruh warga yang hanya bermodalkan jalan kaki.
Veren sempat mengeset gelang multifungsi miliknya. Ia lepas dan segera ia serahkan ke seorang pemuda.
“Ikuti titik merah di layar gelang itu. Titik hijau adalah kalian!”
Veren berhenti berlari. Ia menunggu rombangan pengungsi lain yang terus berdatangan.
Tak berbeda dengan dirinya, Bili dan beberapa petugas DINA membantu penduduk sekitar yang terus berdatangan dari pintu belakang gedung. DINA kini telah menjadi tujuan evakuasi. Divisi tersebut memiliki bunker yang cukup luas di bawah gedung utamanya.
Tak berapa lama, tugas itu pun berakhir. Petugas yang bersamanya bergegas ke bunker, sementara Bili tetap tinggal dan malah menuju halaman belakang. Ia memperhatikan langit yang sesekali dihiasi garis-garis benda berpijar. Kadang garis tersebut hanya segaris lidi dan menghilang setelah kurang dari dua detik menghiasi langit. Dan suatu kali, ia dikagetkan dua buah pecahan asteroid yang melintas tepat di atas kepala. Cahayanya mengerikan dan menabrak beberapa gedung ratusan meter dari DINA.
Ia menghubungi Ayu. “Asteroid yang akan terus jatuh ke kota ini seberapa banyak? Sampai kapan?”
“Yang kau lihat sekarang hanya kepingan kecil. Masih ada kepingan-kepingan lain sebesar gunung. Tidak lama lagi akan mencapai atmosfer. Segera kembali ke LABTEK, Bil!”
Komunikasi diputus. Sebelum Bili meninggalkan pelataran belakang, sebuah seruan minta tolong membuat ia menoleh. Seorang wanita terlihat kepayahan mendorong seorang wanita tua di atas kursi rodanya. Terpanggil, Bili menghampirinya.
“Kursi roda nenekku motornya rusak. Bantu aku mendorongnya.”
Bili mengangguk. Seketika itu, ia merasakan betapa sulitnya mendorong kursi roda. Sepertinya, ada bagian yang kehabisan pelumas. Karena diburu oleh waktu, ia pun lebih memilih menggendong nenek itu.
***
“Kita mendapat laporan dari DIVENN. Pilar tidak mampu menangani sebuah rombongan asteroid. Beberapa di antaranya berukuran hampir satu kilometer. Diperkirakan, mereka mencapai termosfer sepuluh menit lagi.” Sebuah suara terdengar dari speaker di dasbor.
“Sediakan kami waktu setengahnya.” Balas sang pilot dari kokpit. Sekitar delapan buah monitor menyala di depan, atas, bahkan di samping kiri dan kanannya. Sebuah monitor utama berada di depan dengan ukuran paling besar.
Dari ruang kontrol, seorang jenderal memperhatikan persiapan tersebut. Bawahannya mendekat.
“Apakah sekarang saatnya, Pak?”
“Lebih baik kita luncurkan benda itu sekarang, daripada kita gunakan ia sewaktu perang. Dunia pasti menerima.”
Bawahannya mundur selangkah. Dan jenderal itu memerintahkan untuk segera melepaskan lima prajurit terbaik mereka.
“Seluruh unit jin. Persiapan untuk take-off. Periksa semua hubungan senjata dan jalur komunikasi.”
“Tidak ada masalah pada sistem persenjataan. Navigasi di jalur hijau. HIS online. Siap untuk lepas landas.”
Jenderal pun memberikan aba-aba, “Luncurkan!”
Sebuah benda besar perlahan muncul ke permukaan di Samudera Hindia, menyusul lima buah serupa terowongan raksasa.
“Landasan telah sampai di permukaan. Menyesuaikan kemiringan laras lima puluh dua derajat. Jalur hijau. Seluruh jin dipersilakan untuk take-off.”
Lima ekor nyala api berwarna biru melesat dari terowongan yang mengarah ke angkasa. Kelima benda itulah yang disebut jin, sosok kendaraan tempur berupa robot raksasa setinggi hampir tujuh puluh meter. Kelimanya memanggul bermacam senjata berat. Dibalut pekatnya malam, mereka meluncur semakin ke atas.
“Unit jin, laporkan keadaan kalian!”
“Kecepatan maksimum. Sedikit berguncang, tetapi baik-baik saja,” sahut Imam.
“Kami mendekati lapisan terakhir atmosfer,” sambung Helden.
“Fitur Anti-G kokpit jin ini benar-benar ampuh. Kami tidak merasakan apa-apa dalam kecepatan sedahsyat ini.” Haris memeriksa spedometer yang terpasang di dasbor. Sepasang mesin turbojet serupa sayap telah mendorongnya melebihi kecepatan suara. Sekitar lima menit usai lepas landas, mereka telah berada di luar atmosfir.
Kedatangan mereka disambut satu dari empat Pilar. Dengan tinggi hampir lima kali tinggi jin, ternyata ukuran meriam pelindung tersebut masih kalah jauh dari tiga buah asteroid yang semakin mendekat.
“Ada sekitar delapan belas asteroid yang harus dihancurkan. Enam buah telah menjadi target Pilar. Sementara sisanya, kita yang tangani.” Imam memberikan perintah. Diiringi lecutan cahaya besar dari Pilar, kelimanya segera berpencar menuju rombongan asteroid.
Serangan dimulai dengan melepas sepuluh insertor. Mereka menyebar dan masing-masing mendarat di sepuluh asteroid yang telah dipilih. Kepala rudal yang berupa mata bor mulai berputar dan menyeruak masuk ke bagian terdalam asteroid. Sembari menunggu hasil, Rudi dan Iwan bergabung kembali untuk menggempur satu asteroid yang tidak kebagian insertor. Hal yang serupa juga dilakukan oleh Haris dan Helden.
Imam yang menjadi ketua tim, akhirnya menyadari benar kelemahan Pilar. Meriam pelindung tersebut hanya diciptakan untuk menghalau sedikit benda langit yang mendekat. Untuk berpindah dari satu sasaran ke sasaran yang lain, memerlukan setidaknya sepuluh detik. Durasi tembakan laser yang diperlukan juga setidaknya sepuluh detik. Dengan lama penyinaran seperti itu, asteroid yang berukuran lebih besar dari Pilar, hanya terpencar menjadi beberapa bagian. Dan kepingan-kepingan tersebut, masih sulit dicerna oleh atmosfer Bumi. Menyadari apa yang akan terjadi jika batu-batu itu dibiarkan utuh, Imam mulai melesat dengan O-Cannon di bahu kanan.
Dengan O-Cannon pula, empat rekan yang lain telah selesai menciptakan lubang di asteroid yang mereka hinggapi. Dirasa cukup dalam, mereka mulai meluncurkan rudal-rudal tanpa mata bor ke dalam lubang itu. Ledakan yang tercipta menggetarkan asteroid dan memaksa mereka untuk menyingkir. Bersamaan dengan sepuluh asteroid yang telah dirasuki insertor, dua asteroid yang mereka gempur akhirnya pecah berhamburan.
“Tugas berhasil!” pekik Haris gembira.
“Belum!” suara Imam terdengar. “Masih banyak batu yang harus kita hancurkan.”
“Oh, tidak...,” balas Haris. Ia dan yang lain pun melesat membantu Imam.
“Tinggal dua bagian. Tembakan Pilar memberikan waktu satu menit sebelum mereka mencapai atmosfer. Helden, Iwan, Rudi, hancurkan bagian yang terlempar di sisi kiri Pilar. Haris, kita bereskan sisanya.”
Mereka berpencar. Tiga kendaraan tempur yang pernah eksis sebagai senjata perang pada Masa Koloni mulai menyerang. Serombongan rudal mulai berluncuran. Sesekali mereka harus bermanuver dalam mengejar kepingan asteroid untuk mencari titik terlemah. Tarikan gravitasi juga mempercepat gerakan batu yang mereka gempur.
“Aku tepat di depannya!” Rudi berteriak. O-Cannon yang telah ia persiapkan, segera ia adu dengan kepingan asteroid yang hendak melumatnya. Kepingan itu terpecah berhamburan menjadi kepingan yang lebih kecil. Namun beberapa kepingan yang terbentuk, membentur jin miliknya. Ia kehilangan keseimbangan dan turut terseret gravitasi. Barulah setelah beberapa detik, ia berhasil kembali untuk terbang.
“Kami berhasil menghancurkan tiga kepingan lain. Selanjutnya, biarkan termosfer yang turun tangan. Dengan ukuran sebesar itu, mereka pasti akan habis dengan sendirinya.”
“Kami belum selesai,” balas Imam. Ia dan Haris tanpa henti menghujani asteroid yang ia kejar dengan laser dan rudal. Ukurannya kurang lebih sama dengan bagian yang telah hancur. Namun senjata dari dua jin, rupanya tidak cukup untuk melumat batu yang ini.
“Benda ini tidak bergeser dari posisi semula. Kami mulai mencapai atmosfer. Batu ini sepertinya mengarah tepat di sebuah kota.” Haris kembali membidik dan menarik picu. Sinar-sinar terang meluncur dari meriam O-Cannon miliknya.
“Benda ini semakin cepat. Aku akan mendahuluinya dan memborbardir dari arah depan.” Imam melesat sambil terus menembak.
“Di saat aku melakukan itu, aku kehilangan keseimbangan.” Rudi terdengar memperingatkan.
Imam terus melesat. Ia akhirnya berhasil berada di depan.
“Sesuai aba-aba, kita tembak dengan semua senjata yang kita miliki.”
Semua bersiap-siap.
“Tembaaaaak!”
***
Bili akhirnya mencapai lift. Ini satu-satunya jalan menuju LABTEK yang terdekat. Ia terpaksa berlari cukup jauh dari bunker, karena tempat perlindungan itu telah terisi penuh.
Dunia seakan mengecil ketika deruan kencang terdengar. Baru sesaat pintu lift menutup sempurna, semua lampu mendadak padam. Serbuan serpihan logam menyusul menerobos pintu Lift. Bili terhempas ke dinding. Sebelum akhirnya, ia terkapar pingsan di lantai dengan tubuh dibaluri darah.
Akhirnya... Mecha-nya nongol juga.
Btw, kok asteroid itu gak ditembak sebelum masuk orbit bumi. Jika di tembak dalam atmosfer, pecahannya masih bahaya.
Nice
masih bisa mempertahankan khas ceritanya. Hal yang sangat bagus.
di tunggu lanjutannya.
Selalu diakhir cerita mencekam. Imajinasi ttg angkasa luar oke banget.
Hehehe si Gaya, hebat sekali sebagai cewek.