Baca lebih lanjut (ada 479 kata) “Hai, Pohon, bolehkah aku hinggap di cabangmu?”
“Oh, selamat siang, Burung. Silahkan. Bagaimana perjalananmu?”
“Baik-baik saja, terima kasih. Tapi aku senang dapat kembali ke sini. Karena aku dapat berbincang denganmu, sahabatku.”
“Terima kasih, sahabatku. Akhir-akhir ini aku memang kesepian.”
“Ada apa gerangan?”
“Coba dengar sekitarmu. Dahulu tempat ini ramai oleh bisik-bisikan dan kicauan riang makhluk-makhluk. Tapi sekarang…”
“Hmm… Kau benar. Tadinya kupikir itu hanya khayalanku saja. Tapi tempat ini memang semakin sepi. Apa sebabnya?”
“Mereka, Burung, sahabatku. Mereka.”
“Maksudmu Mereka ?”
“Ya. Mereka .”
“Maukah kau menceritakan semuanya padaku?”
“Ya. Aku memang sedang butuh teman bicara. Tapi sebelumnya, bisakah kamu pindah ke cabang sebelah? Terima kasih.”
“Kau tampak sangat lelah, Pohon.”
“Memang. Sejak mereka datang, tempat ini tidak pernah sama.”
“Apa yang terjadi?”
“Mereka mengambil teman-temanku.”
“Mengapa?”
“Entahlah. Tapi mereka tidak pernah kembali.”
“Mengapa?”
“Semua yang bijak telah dibawa pergi. Semakin lama, semakin sedikit yang bisa menjaga tempat ini. Makhlul-makhluk takut keluar. Yang lain pun semakin berdiam diri.”
“Bagaimana bisa.?
“Mereka penyebabnya. Seluruh kelakuan mereka telah membawa suasana ini.”
“Sejak kapan?”
“Sejak mereka datang ke tempat ini.”
“Tapi, kau tahu, tidak semua mereka jahat.”
“Kau benar. Tapi yang baik tidak selamanya baik. Dahulu ada dari antara mereka yang dengan gigih mempertahankan aku dan teman-temanku. Kau tentu ingat, ketika kau dan keluargamu terpaksa pindah dari sini.”
“Ya.”
“Ia menang. Kami damai selama beberapa minggu. Kemudian ia kembali dan memohon bantuan dari kami.”
“Apa yang ia minta?”
“Kami memberikannya buah-buah kerja keras kami. Kami pikir itu pantas karena ia telah berjuang keras demi kami.”
“Lalu apa yang terjadi?”
“Ia kembali lagi, dan lagi, dan lagi sambil menuntut lebih banyak. Sampai ketika satu dari kami berhenti membantunya, ia mengambilnya dan membawanya pergi.”
“Dan sekarang pun kau masih harus membantunya?”
“Tidak. Aku memang masih memberikan buah-buahku. Tetapi itu untuk membantu pesuruh-pesuruhnya, yang juga amat menderita.”
“Kau baik sekali, Pohon.”
“Terima kasih. Hanya saja….”
“Ada apa? Bukankah adalah kebahagiaan besar untuk dapat membantu yang lain?”
“Aku lelah, Burung.”
“Lelah?”
“Aku lelah membantu. Dahan-dahanku tidak kuat lagi. Seberapa banyak pun aku membantu, mereka tidak pernah membantuku kembali.”
“Benarkah itu?”
“Sebaliknya, mereka malah lebih banyak meminta bantuan. Sebenarnya, itu hanya bahasa halus untuk memaksa meminta.”
“Dan yang lainnya…?”
“Tanah ini sudah penuh dengan jejak-jejak mereka. Udara sekitar telah penuh dengan hawa-hawa mereka. Semua itu meresap sampai ke akar-akar. Semakin lama, kami semakin mirip mereka. Kami semakin sering saling mencurigai. Tidak ada lagi rasa saling percaya. Kami semua semakin jarang berbincang.”
“Apa yang akan terjadi selanjutnya?”
“Jika ini tidak dihentikan, Burung, sahabatku, kita akan musnah.”
WeHa
Desember 7, 2007
23:16
Rating Total Dilihat: sudah dibuka 313 kali
Total Komentar: 8
Penilaian:
Favorites You have to login to access this feature
click here Flag You have to login to access this feature
click here
Punya ide tentang lanjutan karya ini ? Saat ini belum ada yang menulis lanjutannya. Ayo lanjutkan karyanya.
BAGUS BGD..
pesan moralnya bagus dan penyampaiannya juga ngga terkesan menggurui. siip
salam,
senja_saujana
nice ha, dalem, banyak pesan moral (ud tobat crtnya). padahal cmn dialog tp menarik.
heheh ha thank you komennya sebenernya saya spontan bikinnya ga niat mu bikin pake rima atau kaga (ga ngerti juga sih).
komen in lagi dunk, oya ini first english poem published Me
nice..
bgt!!
weha mengembangkan ide yang top.. salut deh..!!^^
---------------
----
Mampir ke website dan blogku ya, klik aja:
SEFRYANA KHAIRIL OFFICIAL WEBSITE
Tentang Kita
keren mas weha ceritanya ngena.ternyata kita memilih jadi tong sampah dunia. istilah lain dr meminta pembayaran atas ulah mereka a.k.a global warming bitch:)
Wah weha, saya juga lagi nyari cerpen yang full dialog untuk dibajak..haha..maksudnya dipelajari...gimana ya...ternyata kamu udah bikin...anyway bagus weha..for a first step tapi..maksudnya untuk ukuran sebuh cerpen masih perlu di tambah plotnya..but it is good and sweet
suka
Jadi sedih pas baca, kebayang beban pohon. Gw suka banget cara bertuturnya polos, kaya anak2... menarik!