Sore hari awal perkuliahan ini tidak terasa istimewa bagi Tono. Kegagalannya meraih nilai baik pada semester pendek membuat Tono bosan kuliah. Tidak hanya itu, ternyata kegagalan akademis ini juga membuatnya malas bergaul. Maka, alih-alih menyapa pacar atau teman-teman, alih-alih memberi tanda tangan pada anak-anak baru, begitu jam tangan menunjukan pukul setengah empat, Tono langsung menuju ke ruang kuliah. Padahal perkuliahan sendiri baru dimulai setengah jam lagi.
Baca lebih lanjut (ada 673 kata)
Ah kecepetan sedikit nggak apa , pikir Tono sambil berjalan. Kalau ditunda aku malah jadi malas dan ingin membolos .
Ruang kuliah terasa lengang ketika Tono memasukinya. Saat itu hanya ada tiga mahasiswi temannya yang tengah asyik mengobrol. Setelah membalas sapaan mereka dengan anggukan dan senyum tipis, Tono duduk di kursi belakang dekat jendela. Tono melamun. Saat ini langit cerah. Sinar matahari sore yang menembus kaca membuat Tono makin menghayati lamunannya. Banyak hal terlintas yang dalam kepala: nilai, artikel yang tidak kunjung selesai, Liga Inggris yang tidak lagi ditonton gratis, perpeloncoan angkatan baru, pacarnya yang gila ...
“Hei,” sapa seorang mahasiswa yang baru datang, pelan. Lamunan Tono buyar. Mahasiswa itu kemudian duduk diam selisih satu kursi dari tempat Tono duduk. Wajahnya lelah. Tono mengenalinya sebagai Herman. Mereka satu angkatan dan pernah sekelas beberapa semester yang lalu. Kedatangan Herman rupanya membuat lamunan Tono terasa menjemukan. Muak melamun, Tono akhirnya mengajak Herman berbincang kecil.
“Hei,” sapa Tono sambil tersenyum. “Ini kelas pertama kamu?”
“Bukan,” jawab Herman. “Tadi siang saya udah kuliah Filil.”
Seorang pekarya masuk ke ruang kelas. Ia meletakan segelas air putih di meja dosen. Pekarya itu kemudian menyiapkan komputer dan in-focus.
“Filil?” ulang Tono penasaran. “Filsafat ilmu? Seru nggak?”
Herman mengangkat bahunya. “Nggak ngerti. Tadi bahas Rene Descartes. Eksistensialis. Bingung deh pokoknya.”
Meskipun Herman menjawab pertanyaan Tono dengan singkat dan seperlunya, ada sesuatu dalam diri Herman yang membuat Tono ingin mengajaknya terus berbicara.
“Ambil berapa SKS, Man?” tanya Tono.
“Dua satu. Kamu?” jawab Herman sekaligus bertanya balik demi kesopanan.
“Delapan belas. IP saya cuma dua koma dua.” Tono tertawa. “Padahal saya kemarin bela-belain ngambil semester pendek!”
Herman ikut tertawa. “Saya nggak ambil semester pendek. Malas kalau cuma ngulang C.”
“Nggak ngambil semester pendek?” tanya Tono sedikit terkagum. “Berarti sekarang kamu semangat kuliah, dong, setelah libur dua bulan lebih?”
“Teorinya begitu."
“Jadi kamu nggak semangat?” Tono tertawa lagi. “Saya pikir cuma saya! Ngomong-ngomong kamu ikut UKM apa?”
Herman hanya tertawa. Mengira Tono tidak betul-betul ingin tahu unit kegiatan mahasiswa apa yang diikutinya, Herman tidak mengacuhkan pertanyaan itu. Tidak disangka Tono kembali mempertanyakan hal yang sama.
“Ikut UKM apa, Man?”
Untuk sesaat Herman terdiam. Matanya terpaku pada pemandangan di balik jendela. Ia tidak biasa ditanyai seperti ini.
“Saya nggak ikut apa-apa,” jawab Herman akhirnya. Wajahnya kini merona merah. “Saya nggak suka rutinitas yang mengikat dan saya sucks dalam bersosialisasi.”
“Sucks dalam bersosialisasi?” ulang Tono heran. “Kamu kelihatan baik-baik saja, kok.”
Herman mendengus. “Saya homo,” jawab Herman sembari terheran-heran darimana keterusterangan itu keluar. “Masalahnya saya nggak tipikal. Saya nggak cocok bergaul dengan perempuan dan nggak bisa janji ke teman laki-laki untuk nggak akan suka dengan mereka.”
Kejujuran Herman menyentuh hati Tono. Tono pindah tempat duduk ke kursi kosong sebelah Herman. “Memang kamu sukanya ngapain?” tanya Tono seolah tidak terjadi apapun.
“Hobi?” Herman mengangkat alisnya. “Saya suka nulis.”
Tono terbelalak. “Yang benar?”
“Bukan menulis yang bagus, tapi paling nggak saya puas dengan tulisan saya sendiri. Saya suka proses menulis.”
“Bagaimana kalau kamu ikut koran kampus?” tanya Tono bersemangat. “Saya juga ikut, masalahnya saya relatif sucks dalam membuat tulisan.”
Herman hanya tertawa menanggapi tawaran Tono itu.
“Serius, nih! Mau dibawain contoh koran kampus, nggak?” tanya Tono menuntut jawaban Herman.
“Ya udah.” Herman mengangkat bahu. “Bawain saja.”
Tono tersenyum singkat. Sejenak ia melamun. “Herman,” ujar Tono mengakhiri lamunannya. “Apa kamu selalu sejujur tadi?”
Herman tertawa. Ia menatap wajah keheranan Tono. “Nggak juga,” jawab Herman geli. “Tahu nggak? Saya dari tadi udah mengira-ngira kapan pertanyaan ini bakalan keluar!”
Tono turut tertawa. Ia dan Herman lalu melanjutkan percakapan. Mereka tetap bercakap-cakap ketika kursi yang kosong menjadi semakin sedikit, ketika teman-teman lain datang dan menyapa Tono, ketika kelas mulai terasa riuh, dan ketika ibu dosen mengajar di kelas. Bincang kecil telah jadi bincang besar. Tanpa terasa hari ini jadi lebih cerah lagi bagi mereka berdua.
Punya ide tentang lanjutan karya ini ? Saat ini belum ada yang menulis lanjutannya. Ayo lanjutkan karyanya.
ceritanya enak...
ngalir, asik, ringan...
bagus!
jadi homo juga tuh si tono..
ati2 aja.
tulisanmu ringan, enak dibaca. Tono-Herman? ... calon BFF* kayanya tuh wakakakak
*Best-Fren-Forever
herman bener2 homo tuh???
ceritanya ringan ..
buat rien tersenyum bacanya...
menggelitik..
jangan2 Tono jg Homo??
hehehehe
keep writing
sebuah cerita yang lucu..
Tapi kok orang homo kagak ada 'karakteristik' homo yang meyakinkan? Dan reaksi tokoh lain juga biasa-biasa saja, apa sama-sama homokah?