Esok paginya, Rufe ditugasi untuk menjaga garda depan markas SLA. Garda depan itu berada di sebuah bukit yang letaknya. Dengan penuh kewaspadaan, Rufe menyapu segala lingkungan di penglihatannya dengan binocular. Tanpa ia sadari, tempatnya didatangi oleh Ramon Acosta yang sedang membawa kursi lipat.
"Bagaimana keadaan luar, Rufe?" sapa Ramon dengan ramah.
"Clear.... No enemy activity..." jawab Rufe sambil mengarahkan binocularnya.
"Aku ingin bersantai bersamamu disini. Boleh kan? Ini sudah menjadi kebiasaanku untuk santai sekaligus memantau anak buahku"
Baca lebih lanjut (ada 1420 kata)
"Tentu saja boleh. Silahkan..."
Kemudian, Ramon membuka kursi lipatnya dan langsung duduk dengan santai. Lantas, Ramon memulai percakapan dengan Rufe.
"Apa yang kamu cari di perang ini?"
"Aku ingin mencari uang yang banyak..... Dengan cara mencari klien di suatu daerah..."
"Apa yang kamu lakukan untuk mencari calon klien mu?"
"Berkelana... Ke satu daerah ke daerah lain..."
"Itu pasti melelahkan"
"Tidak juga, selama aku masih bisa bertahan hidup...."
"Well, apa kamu yakin hanya uang yang kamu cari? Tidak dengan hal lain? Anggota keluarga, sobat masa kecil misalnya..."
"Hummm...... Ada satu orang yang ingin kucari...." Rufe kemudian mengambil sepuntung rokok yang ditawarkan oleh Ramon dan mulai menghisapnya.
"Namanya..... Lui, Lui Ashbara. Terakhir ku bertemu dia adalah dokter spesialis yang membuka prakteknya sendiri. Waktu itu, aku baru menjadi tentara bayaran. Ceritanya panjang sekali..."
Lalu Rufe mulai bercerita tentang orang yang bernama Lui Ashbara.
****
Satu Tahun Yang Lalu
Saat itu, Rufe mengendarai sepeda motor berjenis low rider menuju suatu tempat. Tempat itu tak lain dan tak bukan adalah kediaman jendral Choo Shiang Kek. Beliau bukan sembarangan jendral, seorang jendral besar yang menjadi primadona pemimpin Chung Kuo. Saat itu, Rufe adalah pasukan pribadinya.
Rufe pun masuk dengan izin penjaga. Kediaman sang jendral sangat mewah. Mirip mansion, tapi penuh penjagaan tentara Chung Kuo. Tak ayal bahkan tank berjenis M26 Pershing CK yang merupakan Pershing versi Chung Kuo dengan kaliber kanon lebih panjang pun terparkir di depan halaman rumah. Setelah memarkirkan motornya, Rufe disambut oleh seseorang yang sangat akrab.
"Rufe, adikku!! Sudah lama kita belum bertemu yah sejak negara ini terbentuk?!" sapa seorang yang bernama Rey Escobar, kakak kandung Rufe.
"Yeah! Dan seperti perjanjian kita dulu, mana pistol Revolver nya...?"
"You got it, my little brother...." Rey memberikan sebuah pistol Revolver ke tangan Rufe.
"Tidak tidak..... Aku cuma bercanda. Simpan saja dulu di tangan kakak. Nanti aku akan mengambilnya"
"Oh ya, si jendral pasti senang dengan kehadiranmu. Karena dia pasti punya misi?"
"Misi?"
"Yeah! Masuklah...!"
Rey Escobar, seorang prajurit pribadi sang jendral. Berbeda dengan adiknya yang seorang tentara bayaran. Tapi dimata Rey, Rufe tetaplah adiknya dan ia sayang dengan adiknya.
"Oh, tuan Rey. Inikah orang yang Anda bicarakan kemarin?" tanya Choo Shiang Kek dengan hangat.
"Ya, tuan Choo. Ini Rufe Escobar, seorang tentara bayaran. Ia masih junior, tapi aku yakin ia pasti bisa bertarung dengan baik"
"Jadi apa misinya?" tanya Rufe pensaran.
Jendral Choo seketika menatap Rufe sebentar, dan kemudian mengajak Rufe ke loteng di belakang rumah untuk memberikan misi tersebut.
"Kemarin Mayjen Shiu Liu Kang ditangkap oleh gerakan anti Chung Kuo dan menahannya di suatu pulau. Kami mencurigai Mayjen Shiu ditahan di Pulau Kaimana, letaknya tak jauh dari sini dan isa ditempuh melalui jalur udara dan laut. Tugasmu adalah memebebaskan sang Mayjen dan pastikan sang Mayjen tidak terluka sedikitpun hingga sampai disini. Kamu akan dibayar sepuluh juta Chin" jelas Jendral Choo.
Chin adalah mata uang Chung Kuo.
"Hanya membebaskan orang ya? Boleh kupinjam helikoptermu?"
Dengan senang hati, Jendral Choo memanggil pilot helikopternya dan menyerahkan kunci helikopter berjenis Sikorsky S51. Ketika diatnya oleh Jendral Choo apakah Rufe bisa mengendarai helikopter, dengan yakin Rufe jawab bisa berkat ajaran dari sang kakak untuk mengendarai helikopter. Rufe pun langsung bergegas menuju helikopter dan memasukinya.
****
Rufe akhirnya sampai di Pulau Kaimana. Helikopternya di tempatkan di bibir pantai dan menutupnya dengan dedaunan seadanya. Lantas, Rufe bergerak diam-diam ke suatu tempat. Kebetulan disebelahnya ada gudang amunisi. Lalu, Rufe diam-diam masuk ke gudang amunisi tersebut dan menemui beberapa persenjataan. Salah satunya adalah Degtyaryova RPD, senapan mesin ringan yang paling mematikan di jamannya. Rufe mengambil dua pucuk senapan mesin itu beserta lima gulung amunisi senapan mesin yang ia selempangkan di badannya.
Sebelum Rufe meninggalkan gudang tersebut, ia menanamkam TNT di dekat bahan peledak. Tujuannya untuk menghancurkan persenjataan musuh sekaligus mengagetkan musuh. Setelah menuyulut TNT, Rufe bergegas keluar melalui jendela belakang dan mencari tempat perlindungan.
Ledakan besar yang menggelegar itu mengagetkan pasukan musuh. Dengan sigap, Rufe menembak musuh yang di hadapannya dengan senjatanya. Rufe bisa menembakkan ratusan butir peluru dengan dua RPD ditangannya. Tak perlu waktu lama, hampir semua prajurit musuh mati tertembak oleh Rufe. Selanjutnya, Rufe menuju ke sebuah bangunan yang diyakini tempat ditahannya Mayjen Shiu. Tapi, lagi-lagi Rufe dihadang musuh dengan kendaraan 4x4 bersenjata grenade launcher. Tanpa rasa takut sedikit pun, Rufe menembaki supir dan penembaknya. Bahkan ia sempat menembak mobil tersebut hingga meledak. Pasukan musuh pun musnah seketika.
Rufe berlari menuju sebuah sel tahanan yang di dalamnya terdapat Mayjen Shiu. Disana ia menghancurkan gembok sel tersebut dan membebaskan Mayjen Shiu.
"Who the hell are you?!" tanya sang Mayjen sedikit geram.
"Rufe Escobar, penyelamatmu.... Aku disuruh Jendral Choo untuk membebaskanmu..."
"Jadi kamu tentara bayaran? Baiklah kalau begitu, mari kita keluar dari tempat buruk ini"
Lantas, Rufe sesegera mungkin membawa sang Mayjen menuju kediaman Jendral Choo dengan helikopternya.
****
Sesampainya disana, Rufe mengambil istirahat sejenak. Rufe membayangkan dirinya mendapatkan uang sebesar itu. Sepuluh juta Chin merupakan jumlah yang banyak. Uang itu bisa Rufe gunakan untuk membeli rumah sebagai markas tentara bayaran dirinya atau membuat perusahaan yang menampung tentara bayaran. Seakan Rufe terbawa oleh mimpi.
Karena teringat akan janji Jendral Choo, Rufe langsung menemui sang jendral di loteng. Ia melihat Jendral Choo ebrdiskusi bersama Mayjen Shiu.
"Permisi, bisakah aku ambil bayarannya?" tanya Rufe kepada Jendral Choo.
"Oh tunggu sebentar, tuan Rufe. Bayaranmu akan kubayar kelak"
"Tapi bukankah Anda bilang akan membayarnya setelah aku membawanya kesini"
"Listen, young kid. This money is not yours, but the job is yours....."
Tiba-tiba dari belakang Rufe ditodongkan senjata AK-47 oleh prajurit Jendral Choo. Rufe pun diam bagaikan patung.
"Mulai besok aku akan mengirimkan gagasan untuk menginvasi Sornesia kepada presiden. Kau tahu, negeri ini terseok-seok sejak krisis moneter tahun ini. Dan inilah momen yang tepat untuk mengambil kembali uang Sornesia ke kita"
"Jadi selama ini aku dibohongi? Berarti aku harus bertindak..."
Rufe langsung menendang ke belakang prajurit yang menodongnya tadi. Sang prajurit pun ambruk. Dengan cekat Rey yang kebetulan mencul dari belakang Rufe menodongkan senjatanya.
"Sorry, my brother...."
"You like piece of shit..."
Tanpa pikir panjang, Rufe menangkis tangan Rey. Senjatanya pun terlempar ke lantai, sementara Rufe berkelahi dengan Rey dan "mengunci" tangan Rey.
"Disana!!" tunjuk Jendral Choo pada semua tentaranya.
Mendengar hal itu, Rufe langsung lari menghindari rentetan tembakan senapan tempur AK-47 dari tentara Jendral Choo. Rufe terus berlari sekuat tenaga hingga ia menemui dermaga pribadi milik sang Jendral. Tanpa berpikir lagi, Rufe langsung terjun ke perairan. Malangnya, satu timah panas menusuk bokong Rufe saat muali terjun. Rufe pun menjerit kesakitan.
"Aaarrkkkhh!!!!!"
Rufe tercebur ke lautan. Orang-orang disana mengira Rufe sudah tewas. Maka, sang Jendral hanya bisa bernapas lega dan merapihkan kemejanya.
****
Pandangan Rufe mulai sedikit kabur. Kepalanya mulai pening, lehernya terasa terkena beban berat, dan bokongnya terasa sakit sekali. Tapi, Rufe merasakan sesuatu yang aneh. Sejak kapan Rufe ada di sebuah kasur beranjang? Dan sejak kapan pula Rufe berada di sebuah ruangan yang bersih putih serta tertutup oleh horden?
"Dimana aku.....?" tanya Rufe kebingungan.
"Ah... Kakak.... AKhirnya kakak telah sadar...." ucap seseorang wanita dengan lemah lembut pada Rufe.
"Siapa kau...? Mau apa kau...? Dan dimana aku ini...?"
"Tenanglah... Namaku Lui, Lui Ashbara. AKu seorang dokter di daerah ini. Warga sekitar menemukanmu tergeletak di pantai. Mereka sekitar mengira kamu ini mayat, dan kemudian membawanya kesini, ke klinik ku...." jawab Lui manis.
"Jadi.... Kamu dokter...?"
Lui hanya mengangguk.
"Lantas, apa yang terjadi denganku?"
"Bokongmu sudah selesai ku obati. Sepertinya kamu tertembak ya?"
"Tertembak? Oh ya, mereka menembakku.... Keparat..."
"Siapa yang menembakmu?"
"Ceritanya panjang, Lui.... Tapi, aku bisa menceritakannya kelak.... Arkh!!" Rufe merintih kesakitan karena bokongnya masih sakit.
"Sudahlah, kamu tak perlu menceritakannya... Mungkin kamu dikejar oleh orang jahat..."
"Kurasa begitu"
"Untuk sementara kamu tinggal di klinik ku dulu. Bila sudah terasa sembuh, kamu boleh pergi"
Untuk sesaat Rufe terdiam sejenak. Gadis muda berambut pendek berwarna kebiruan itu berbuat kebaikan kepadanya. Jarang Rufe menemukan orang sebaik Lui.
"Hey, dok....."
"Terima kasih atas perawatannya...."
Lui hanya menanggapinya dengan senyuman.
"Lain kali jangan paggil aku dok yah.... Panggil aku Lui saja, biar akrab...."
"Oke, dok.... Eh maksudku Lui...." Rufe pun mulai salah tingkah terhadap Lui.
Sekitar dua mingguan Rufe dirawat dan dinyatakan sembuh oleh Lui. Sebelum berpisah, Rufe mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Lui.
****
Kembali ke Masa Sekarang
"Yah begitulah ceritaku dulu. Sampai sekarang, aku masih mencari Lui untuk menemuinya. Menurutku, selain cantik dan manis, Lui itu sangat baik..." Rufe menghela nafasnya untuk sesaat dan melanjutkan pembicaraannya kembali.
"Aku telah mencari dirinya di rumah sakit atau klinik manapun. Tapi tidak ketemu. Semoga aku akan menemuinya suatu saat..."
"Terus berjuanglah, Rufe...." saran Ramon yang kemudian meninggalkan Rufe. Rufe sendiri hanya bisa tersenyum dan melanjutkan tugasnya.
Bersambung...
alur ceritamu itu terlalu cepat dan terlalu banyak kata-kata yang gak perlu, tom...
Lho kenapa rufe ga nyari di klinik yg dulu? Udah pindah?
Rufe nyari duit. Duitnya buat apa?apa dia pengen jd pemimpin sebuah org. militer independen?
Masih ada bekas luka bokongnya ga? Hehehe.. Kepengen liat
Klinik yg dulu Lui udah pindah. Makanya kayak cerita diatas, Rufe sambil menjalankan misi nyari2 RS ato klinik2 di tempat misinya. Sapa tau ketemu Lui.
Rufe nyari duit selain buat makan, ya buat beli amunisi senjatanya. Amunisi belinya pake apa? Duit kan ^^
Thanks dah mampir
Iya ya. Dipikir-pikir si Rufe ini duit mulu. Tapi ga kaya-kaya. Ato harganya kemurahan. Ato ketipu terus.
Hm, tapi dipikir-pikir lagi, dulu juga si Keegan dikasi duit ama pangkat. Mungkin soal urusan motivasinya bisa lebih divariasi ato diperdalam lagi, bro.
Setuju nih
rambo sekali, aq pikir kayak IGI, ato splinter cel...
Ya benar, karena dulu Rufe ga bisa nge sniper. Maksudnya bisa sih bisa, cuma ga sehebat sekarang...
Thanks
Uih ketembak bokongnya....
Btw....

Lui Ashbara: