“Rahman...!” seorang lelaki sambil menenteng sebuah map berlari tergesa-gesa ke arah Rahman, ketua panitia dalam kegiatan ini.
Baca lebih lanjut (ada 846 kata)
“Ada apa, Bamby?” tanya Rahman yang sedang sibuk dengan perlengkapannya.
“Gawat! Dananya kurang,” kata Bamby dengan nafas tersengal-sengal.
“Apa? Dananya kurang?”
“Iya,”
“Bagaimana dengan dana cadangan?”
“Sudah dicek dan hasilnya tetap kurang sekitar beberapa juta. Sumbangan anggota dan panitia pun tidak cukup,”
Rahman menarik napas panjang. “Gimana nih?” keluhnya.
“Oh, yah! Apa kita jadi mengundang anak SMA untuk gabung?” tanya Bamby.
“Kalau dananya kurang bagaimana bisa?” kata Rahman.
“Iya juga sih. Tapi kitakan bisa minta sumbangan mereka,” usul Bamby pula.
“Kalau begitu, maka dana yang dibutuhkan lebih besar,” terang Rahman.
Bamby mengangguk mengerti. Sekarang dia mengerti masalah yang begitu rumit menanti di hadapan.
***
“Apa? Kamu udah memberitahukannya kepada anak SMA, Raf?” kata Rahman kaget.
“Iya, memangnya kenapa?” kata Rafli balik tanya.
“Masya Allah..., kan rencananya belum final, Raf! Lagipula kita terbentur masalah dana,” terang Rahman.
“Habisnya, Fahri bilang masalah dana itu gampang dan bisa diurus,” Rafli berkata sambil menunjuk seorang pemuda lugu dengan kaos biru lautnya.
“Lho kok gue yang disalahin?” kata Fahri protes.
“Sudahlah, jangan diambil pusing. Katakan kepada mereka kalau mereka tidak bisa pergi,” jawab Rahman tak bersemangat.
“Hm? Aku bilang pendaftaran berakhir saat ini...,” kata Rafli.
“Lalu?”
“Hanya dua yang mendaftar,”
***
“Masalah dana, Kak?” seorang gadis tomboy beraksesoriskan topi dan rompi merah muda bertanya dengan sopan namun santai ke arah Rahman.
“Iya..., Kami terbentur masalah dana, dik. Maaf, kalian tidak bisa pergi. Dan mungkin kegiatan ini akan dibatalkan,” jawab Rahman.
“Memangnya kurang berapa dananya, Kak?” tanya gadis itu.
“Hush! Fifi, memangnya Kamu mau apa?” tanya seorang gadis satunya yang bersyalkan kain kuning. Gadis ini terlihat lebih pendiam dari gadis yang tomboy satunya.
“Sudahlah, Calia! Akukan punya banyak uang,” katanya santai. “Kurang berapa?”
“Dihitung-hitung..., kekurangannya...,” Bamby angkat bicara. “Tiga juta enam ratus ribu,”
“APA! Sebanyak itu?” Fifi terbelalak kaget.
“Tuh kan,” Calia mendesah.
“Kenapa bisa sekurang itu? Memangnya ada apa dengan kampus ini sehingga begitu pelit mengeluarkan uang,” protes Fifi.
“Hey hey...! Tenanglah gadis berwatak keras! Kami ini mahasiswa di sini, lebih tahu banyak daripada kamu yang masih SMA,” potong Rafli.
“Hey! Bung! Bukankah kau sendiri yang datang ke sekolahku dan menawarkan perjalanan yang kurang duit ini,” bentak Fifi.
“Apa katamu?” Rafli emosi.
Calia dan Fahri berusaha menahan amarah temannya masing-masing. Sedangkan Bamby hanya geleng-geleng kepala.
“Ini memang salah Kami!” Rahman angkat bicara.
Keduanya terdiam. “Lebih tepatnya ini adalah salahku. Aku tidak begitu aktif dalam menggalang dana dan meminta bantuan kepada pihak dekan dan rektor kampus. Akulah orang yang menyebabkan kegiatan ini tidak bisa terlaksana,” Rahman berkata dengan wajah tertunduk lesu.
“Jadi..., kegiatan ini batal ya?” tiba-tiba seorang pria berpakaian kemeja garis hijau datang mendatangi mereka.
Mereka berenam menoleh ke arah pria asing tersebut.
“Perkenalkan, namaku Frys Draffe. Penjelajah, Aku akan membayar kekurangan dana itu,” katanya dengan penuh wibawa. “Tapi..., panggil saja aku Core Fire,”
***
Di tengah lautan menuju gunung Krakatu, Di atas Perahu Motor
“Hai, Bung! Kau pasti punya maksud tertentu mengapa engkau mau membiayai perjalanan Kami, iya kan?” tanya Rafli yang mengambil duduk di samping Core.
“Tentu! Karena aku adalah seorang penjelajah, sama dengan kalian,” jawabnya.
Rafli tertawa kecil. “Sudahlah! Jangan terlalu berbasa-basi. Mungkin mereka tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku mengetahui keadaan seperti ini,” katanya tenang.
“Kau berani sekali,”
“Jangan tersinggung! Aku hanya ingin mengetahui kebenaran,”
“Oke! Sebenarnya aku ke sini mencari lima kristal berwaran yang memiliki kekuatan yang hebat,” kata Core memulai.
“Lalu?”
“Jujur saja, aku tidak berani datang ke sini sendirian. Mengingat legenda yang mengatakan bahwa akan ada lima orang pemuda yang memiliki kekuatan di hatinya yang akan memilikinya,”
“Jadi..., kau takut berhadapan dengan mereka?”
“Tidak juga...,”
“Lalu?”
“Aku berpikir kalau mereka adalah salah satu dari kalian...,”
“..............,”
“Ditambah lagi..., kalau aku apa-apa, ada orang yang bisa menolongku,”
“Tunggu dulu! Jika dengan uang sebanyak itu, mengapa engkau tidak menyewa orang untuk membantumu?”
Core terdiam. Ia menatap mata Rafli dalam-dalam. “Asal kau tahu! Kelima kristal ini sedang diperebutkan oleh hitam dan putih. Lagipula, kristal ini memiliki kekuatan yang bisa membuat orang itu gila bila tidak memenuhi kriteria. Jadi, akan lebih baik jika aku pergi dengan kalian karena aku merasa lima di antara kalian akan memiliki kekuatan kristal ini,”
“Kristal yang berharga!”
“Satu lagi! Hal ini sangat dirahasiakan,”
Rafli tersenyum tipis. “Pastinya kau membutuhkan seseorang untuk pencarian ini kan?”
“Tentu,”
“Ayo kita cari!”
***
Pantai Gunung Krakatau
“Hah hah hah!” sesosok makhluk menyerupai manusia terdampar di pasir pantai yang hitam.
“Ayo cepat bangun, Bullur! Kita tidak boleh kehilangan kristal itu,” perintah seorang pria berperawakan tegap dengan jubah merah berjumbai.
“Tunggu sebentar, Jendral! Aku, ngos-ngossan,” kata anak buahnya yang sedang berjongkok.
“Jangan banyak tingkah!” ia lalu menendang pantat anak buahnya. “Ayo!”
Bullur yang tersungkur hanya bisa menyumpah serapah. “Jendral Jhelk kok garang ya?”
To Be Continued
Bagus! Aku tunggu lanjutan ceritanya!
Kreatif, lucu, dan menghibur ^o^
Hanya saja......dari dua cerita yang aku liat, kayaknya kk demen banget bikin dialog, tapi suka terkesan melupakan deskripsi dan narasi yah ^o^
emang adanya yaa... kekuatan seperti itu di indonesia...
kan power ranger adanya di amrik sana or di jepang
gimanan ya kalo emang bener-bener ada???????
eee, agak komedi apa ya? aku kok nangkapnya gitu.
Menurutku, sekarang ini Endy sedang dalam masa produktif menulis. Cerita-ceritamu cukup menghibur, mungkin dengan lebih banyak menulis dan membaca pasti segala kemampuan akan terasah dan berkembang.
Ceritanya bagus. Cuman ada yang agak janggal. Biasanya,kalau ranger diberitahu tentang kekuatan, pasti gak percaya. Di sini kok mereka langsung percaya aja. Tapi bagus. Aku tunggu lanjutannya.